Papan skor menunjukkan angka 45-45 saat pertandingan Perbanas Institute vs Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) di The Nationals Final Basketball Putra Campus League Season 1 2026 tersisa 1 menit 36 detik. UKSW punya kesempatan untuk berbalik unggul di momen krusial.
Samuel Kafiar baru saja mendapat kesempatan meraih three point play. Tembakannya masuk dan ia meraih satu free throw.
Tembakan Samuel tidak berhasil masuk dan di situ berdiri Haikal Malik siap melakukan defensive rebound. Haikal memenangkan duel rebound dan sukses menggagalkan kesempatan kedua untuk UKSW melakukan serangan.
Perbanas menguasai bola dan langsung berupaya melakukan tekanan. Haikal ikut naik maju ke depan. Haikal berada di bawah ring dan menerima assist matang. Ia melakukan lay up yang membuat Perbanas kembali unggul 47-45.
Poin tersebut ternyata jadi poin terakhir yang tercipta di laga itu. Di sisa waktu yang ada, kedua tim tidak bisa menambah angka.
Perbanas juara Campus League Basketball Putra Season 1!
Begitu peluit berbunyi, Haikal sempat menoleh ke sisi lapangan. Barulah sedetik kemudian dia menyadari bahwa peluit itu adalah peluit tanda laga berakhir.
Haikal lalu berteriak meluapkan kegembiraannya. Tangannya mengepal dan tak lama kemudian pelukan dari temannya berdatangan.
Malam makin indah bagi Haikal karena ia terpilih sebagai MVP Final. Haikal mencatat double-double lewat 15 poin dan 11 rebound. Selain itu ia juga mencatat 6 assist dan 1 steal di laga tersebut.
"Awal-awal saya tidak tahu kalau waktu sudah habis. Baru setelah teman-teman masuk lapangan, itu rasanya senang sekali. Campur aduk, antara terharu dan senang," ucap Haikal.
Haikal, mahasiswa tahun pertama di Perbanas, merasakan kemenangan besar dalam perjalanan hidupnya. Campus League adalah gelar tingkat nasional pertama yang ia dapat sejak aktif bermain basket.
Haikal Malik yang berusia 20 tahun di 2026, mengenang kembali perjalanan hidupnya. Ia tumbuh besar di Bengkulu, jauh dari hingar-bingar kota yang sering jadi pusat pertumbuhan bola basket.
Hidupnya diwarnai kegagalan menembus tim utama bola basket di SMP tempat ia belajar. Namun di masa pandemi, ia merasa ada perubahan besar. Tingginya menjulang dari 169cm ke 181cm dalam waktu setahun.
Posisi inti di SMP bisa ia dapatkan. Setelah tingginya mulai menjulang itulah, Haikal mulai fokus untuk makin menekuni basket.
Di sisi lain, orang tuanya berpesan untuk tidak melupakan pendidikan. Haikal mengaku, prestasi akademiknya tergolong biasa karena itu ia tak menyangka bisa mendapat sebuah hal luar biasa, bisa kuliah tanpa keluar biaya alias mendapat beasiswa karena kemampuannya bermain basket.
Keberhasilannya terpilih dalam DBL All Star, membuat ia dilirik oleh pelatih Perbanas, Afrizal. Haikal setuju masuk Perbanas dan memulai kehidupan sebagai student-athlete.
Posisi inti tidak langsung ia dapatkan. Haikal bekerja keras selama tahun pertama hingga posisi di starting five bisa ia dapatkan. Haikal bukan hanya merebut posisi inti dan mengantar Perbanas jadi juara Campus League, nilai akademiknya juga tergolong memuaskan.
Sebagai mahasiswa dan berstatus student-athlete, Haikal berjuang keras membagi waktunya. Hari-harinya diisi dengan belajar dan latihan.
"Kuliah bisa sampai pukul 2-3 siang. Setelah itu, saya pergi ke gym. Kemudian baru latihan Perbanas di pukul 8 malam."
"Saya berusaha untuk tidak fokus ke rasa lelah. Saya alihkan dengan cerita-cerita ke teman-teman. Teman-teman juga yang bantu mengabarkan bila ada tugas kuliah di saat saya sedang tanding," tutur Haikal.