ANALISIS

Misi Cetak Gol Melimpah, Garuda Wajib Buat Bangladesh Pasrah

Askar Fatih Rabbani | CNN Indonesia
Kamis, 01 Okt 2026 08:20 WIB
Kebutuhan akan gol di Timnas Indonesia tak seharusnya jadi tugas Ole Romeny seorang. (CNNIndonesia/Adi ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kemenangan biasa bisa saja tak lagi bermakna bagi Timnas Indonesia. Skuad Garuda menanggung beban mencetak gol melimpah demi memaksa Bangladesh pasrah pada laga pemungkas Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Kamis (1/10) pukul 19.30 WIB.

Skenario kelolosan memaksa Indonesia wajib tampil kesetanan. Hasil imbang tanpa gol kontra Malaysia membuat nasib anak asuh John Herdman kini bergantung pada kalkulasi selisih gol di laga terakhir.

Indonesia saat ini tertahan di peringkat kedua dengan empat poin dan selisih gol +2. Koleksi angka tersebut sejajar dengan Malaysia di puncak klasemen, namun Harimau Malaya unggul produktivitas dengan margin gol +3.

Situasi krusial ini menuntut Indonesia menguliti pertahanan Bangladesh tanpa ampun. Tiga poin kemenangan berisiko menjadi hampa jika Malaysia di saat bersamaan sanggup membantai Singapura di Bandung.

Menggelontorkan pundi-pundi gol tak semudah membalikkan telapak tangan. Evaluasi mendasar justru menyoroti tumpulnya daya gedor Garuda yang baru mengemas dua gol dari dua laga.

Cermin buruk terlihat jelas dalam kemenangan 2-0 atas Singapura. Lini serang Indonesia tampil sangat tidak efisien meski memegang kendali permainan sepanjang laga.

Statistik mencatat Indonesia melepaskan 11 kali tembakan, tetapi hanya dua yang tepat sasaran. Artinya, delapan tembakan melayang tak tentu arah dan satu upaya berhasil diblokir lawan.

Ada statistik lain lagi. Kemewahan 11 kali tendangan sudut terbuang sia-sia tanpa menghasilkan peluang berbahaya. Efektivitas yang buruk ini menjadi alarm jelang laga penentu.

Langkah Indonesia kian terjal akibat absennya Thom Haye di lini tengah. Gelandang Persib Bandung itu dipastikan absen akibat kartu merah langsung usai melanggar Arif Aiman di laga lawan Malaysia.

Kehilangan sang pengatur tempo memaksa Herdman memutar otak meracik komposisi alternatif. Kedalaman skuad yang minim gelandang kreatif murni membuat pilihan sang arsitek menjadi sangat terbatas.

Nama muda seperti Rayhan Hannan masih tergolong hijau untuk laga bertensi tinggi. Di sisi lain, deretan opsi berpengalaman macam Ricky Kambuaya hingga Beckham Putra justru tak dipanggil ke dalam skuad.

Meski demikian, racikan tanpa Haye sebenarnya bukan barang baru bagi Herdman. Ia berpeluang mengulang formula laga Singapura dengan menduetkan Mitchell Baker dan Ole Romeny di depan, ditopang Joey Pelupessy serta Calvin Verdonk di tengah.

Apalagi, di era rezim Herdman, Haye tidak ditempatkan pada posisi asli sebagai kreator serangan. Pemain kelahiran Amsterdam itu diplot lebih maju menjelma striker bayangan.

Sektor sayap yang dihuni Ragnar Oratmangoen dan Luke Vickery wajib tampil lebih menggigit. Kebijakan taktis Herdman kini diuji agar dua pemain tersebut mampu lebih efektif dan klinis dalam penyelesaian akhir.

Baca lanjutan analisis ini di halaman selanjutnya>>>

Musuh Tumpul Tanpa Taring, Tak Ada Alasan Indonesia Pening


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :