ANALISIS ASIAN GAMES 2026

Ketika Leo/Daniel Bersama Kembali ke Jalan Penuh Cahaya

Putra Permata Tegar Idaman | CNN Indonesia
Kamis, 01 Okt 2026 19:00 WIB
Silver medallists Indonesia's Amri Syahnawi (L) and Nita Violina Marwah pose on the podium during the victory ceremony for the mixed doubles badminton during the 2026 Asian Games at the Ichinomiya City Municipal Gymnasium in Ichinomiya, Aichi prefect
Cara pandang banyak orang terhadap Amri/Nita berubah setelah Asian Games 2026. ( AFP/YUICHI YAMAZAKI)

Ada yang berbeda dari Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah. Kali ini, Amri/Nita bisa memandang komentar-komentar di media sosial dengan tenang.

Medali perak Asian Games 2026, menyusul medali perunggu Kejuaraan Dunia 2026, membuat penilaian dan cara pandang banyak orang terhadap Amri/Nita berubah. Dan hal itu terjadi hanya dalam hitungan beberapa bulan.

Beberapa bulan lalu, Amri/Nita masih sering jadi sasaran kritik dan bahkan sasaran serangan penggemar bulu tangkis di dunia maya. Banyak kritik yang mengalir pada mereka, mulai dari hasil yang dinilai biasa saja tanpa peningkatan nyata hingga pengiriman rutin ke turnamen tanpa balasan hasil yang memuaskan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun cara pandang publik terhadap Amri/Nita berubah drastis dalam dua bulan terakhir. Setelah membuat kejutan dengan meraih medali perunggu di Kejuaraan Dunia, Amri/Nita seolah memberi penegasan bahwa sukses tersebut bukan sepenuhnya kejutan saat mereka tampil di Asian Games dan pulang dengan medali di tangan mereka.

Di Asian Games, Amri/Nita bisa menembus babak final. Lewat performa luar biasa, Amri/Nita bisa mengalahkan ganda campuran nomor satu dunia, Feng Yanzhe/Huang Dongping di babak semifinal.

Kemenangan itu jadi puncak pembuktian Amri/Nita. Setelah kalah dalam lima pertemuan sebelumnya, Amri/Nita sukses membuat Feng/Huang tak berdaya.

Nita yang berani di depan net dan Amri yang punya smes kuat. Amri/Nita yang gigih berjuang, mengejar ke manapun shuttlecock melayang. Bayangan inilah yang kemudian kini ada di pemikiran banyak orang.

Amri/Nita pada akhirnya memang tak berhasil menyempurnakan langkah ajaib mereka dengan emas di tangan. Namun kalungan medali perak sudah cukup mengubah cara pandang banyak orang terhadap kapasitas mereka sebagai pasangan.

Alwi Farhan saat tampil di final nomor beregu putra Asian Games. (Arsip PBSI)Alwi Farhan jadi salah satu pemain yang tampil apik di Asian Games 2026. (Arsip PBSI) 

Badminton Indonesia yang Kembali Gairah Seiring Hasil yang Cerah

PBSI memutuskan memasang target satu medali emas di Asian Games 2926. Padahal di atas kertas mereka punya tiga andalan yaitu tim beregu putra, Jonatan Christie, dan Fajar/Fikri. Tim beregu putra dan Jonatan jadi unggulan pertama sedangkan Fajar/Fikri jadi unggulan kedua. Tiga wakil itu jelas layak dibebankan target medali emas.

Namun hanya satu target medali emas yang dibebankan pada Tim Badminton Indonesia setelah proses diskusi antara Tim PBSI dan tim-tim terkait.

Melihat situasi yang ada, target satu medali emas ini memang angka yang paling realistis dilihat dari berbagai sudut pandang. Mulai dari situasi terkini hingga ketakutan terhadap beban berlebihan.

Dalam situasi terkini, Indonesia sering gagal di kejuaraan besar. Indonesia sudah lama tidak punya juara dunia. Indonesia juga gagal mendapat medali di Asian Games 2022.

Kedua, memasang target lebih dari satu emas bakal membuat pertanyaan mengemuka sejak awal. Belum lagi jadi beban tambahan bagi wakil yang dijadikan andalan meraih emas.

Dua hal itu sudah cukup jadi indikator bagi PBSI untuk tidak terlalu bersikap bombastis. Mereka seolah tak mau memberikan beban tambahan dengan menyuarakan keras-keras target di atas satu emas.

Tim beregu putra yang berhasil memenuhi target karena nomor ini yang memang jadi andalan. Sedangkan Jonatan dan Fajar/Fikri tidak mampu memenuhi harapan meraih emas.

Tim Beregu Putra Indonesia usai berhasil memenangkan medali emas Asian Games 2026. (Arsip PBSI)Tim Beregu Putra Indonesia berhasil menyabet emas pertama Indonesia di Asian Games 2026. (Arsip PBSI)

Namun di balik itu, muncul Leo/Daniel dan Amri/Nita yang mampum menembus babak final. Leo/Daniel meneruskan langkah mereka jadi juara sedangkan Amri/Nita bisa memberikan perak untuk Indonesia.

Berkaca dari hal ini, jelas terlihat betapa nyamannya bila memiliki pemain andalan. 1-2 pemain gugur di tengah jalan, masih ada wakil lainnya yang berjuang melanjutkan.

Di Asian Games kali ini, Amri/Nita dan Leo/Daniel masih berstatus non unggulan. Artinya hasil yang mereka dapat pun masih sering diberi label kejutan.

Namun menilik performa yang mereka tampilkan, Amri/Nita dan Leo/Daniel punya potensi untuk jadi andalan. Dari turnamen ke turnamen, mereka bisa terus jadi pemain yang diharapkan.

Bukan hanya Leo/Daniel dan Amri/Nita, ada nama Alwi Farhan, hingga Moh Zaki Ubaidillah yang mencuri perhatian di Asian Games 2026. Nama-nama ini membuat Indonesia punya peluang untuk memiliki lebih banyak pemain papan atas, bukan hanya Jonatan dan Fajar/Fikri.

Moh Zaki Ubaidillah saat tampil di final nomor beregu putra Asian Games 2026. (Arsip PBSI)Moh Zaki Ubaidillah tampil memukau dan jadi penentu kemenangan Indonesia atas China di final beregu putra Asian Games.  (Arsip PBSI)

Prestasi Tim Badminton Indonesia juga disambut positif oleh penggemar, di dunia nyata dan dunia maya. Terasa gairah dan kebanggaan yang sempat menghilang. Sebuah bukti bahwa prestasi akan selalu jadi magnet bagi banyak orang untuk memperhatikan dan terus mengikuti.

PBSI telah sukses menunaikan tugasnya di Asian Games 2026. Badminton Indonesia kembali ke tempat terhormat dengan catatan 2 emas, 1 perak, dan 3 perunggu. Jelas jauh lebih baik dibanding saat mendapat catatan kelam empat tahun silam.

Setelah tugas di Aichi-Nagoya bisa diselesaikan dengan baik, PBSI akan terus berjalan dengan target besar selanjutnya. Piala Sudirman dan Kejuaraan Dunia di tahun depan, hingga Olimpiade pada 2028 mendatang.

Namun berbeda dengan beberapa waktu sebelumnya, kini ada kepercayaan diri yang tertanam lebih kuat di dalam diri pebulutangkis Indonesia. Percaya bahwa pebulutangkis Indonesia masih layak bersaing di level elite dunia.

[Gambas:Video CNN]

(jal)

HALAMAN:
1 2