Jakarta, CNN Indonesia -- Situasi di gim ketiga laga final Asian Games 2026 antara Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin vs Liang Weikeng/Wang Chan mendadak kembali menegangkan. Leo/Daniel yang sempat unggul 18-13 kehilangan empat poin beruntun dan skor menjadi 18-17.
Arah permainan sedang dikuasai oleh Liang/Wang. Mereka kembali percaya diri untuk mengejar.
Dalam situasi tersebut, Leo/Daniel terus ditekan dalam permainan berikutnya. Namun pukulan Liang Weikeng yang membentur net jadi poin tambahan bagi Leo/Daniel. 19-17.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tekanan bagi Leo/Daniel belum usai. Pada permainan selanjutnya, Daniel melakukan kesalahan sehingga skor berubah jadi 19-18.
Walaupun tekanan makin kuat datang ke arah Leo/Daniel, sebuah smes Leo yang tak bisa dikembalikan Liang Weikeng mengantar Leo/Daniel meraih match point.
Dalam servis yang dipegang Leo, Leo/Daniel bisa berada dalam posisi menekan. Smes Daniel yang mendarat telak di lapangan lawan kemudian jadi poin ke-21 bagi Leo/Daniel.
Emas Asian Games untuk Leo/Daniel!
Emas untuk Indonesia!
Keberhasilan Leo/Daniel merebut emas Asian Games ini adalah jawaban dari banyak hal.
Jawaban dari kehadiran Leo/Daniel dalam skuad Asian Games 2026.
Jawaban dari Tim Badminton Indonesia setelah mereka lebih sering menuai kegagalan.
Emas Leo/Daniel jadi emas kedua Tim Badminton Indonesia di Asian Games 2026. Hal itu membuat Indonesia melewati target yang telah ditetapkan untuk Asian Games 2026.
Selain itu, emas Asian Games ini mengembalikan Leo/Daniel ke jalan penuh cahaya. Jalan yang sebelumnya memang sudah dipercaya bakal ditempuh oleh mereka.
Tujuh tahun lalu, Leo/Daniel berhasil jadi juara dunia junior. Leo/Daniel berhasil menyabet gelar bergengsi tersebut setelah Indonesia lama tak memiliki juara dunia junior.
Dua tahun berselang, Leo/Daniel berhasil masuk skuad Thomas Cup 2020 yang digelar di 2021. Leo/Daniel memenangkan seleksi untuk masuk ke skuad Thomas Cup sehingga akhirnya mereka punya pengalaman bermain dalam skuad dengan ganda papan atas Indonesia seperti Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto.
Pada tahun itu pula, Leo/Daniel bisa memenangkan emas SEA Games 2021. Hal itu membuat langkah Leo/Daniel terasa cepat di jalan yang penuh cahaya.
Di tahun 2022, Leo/Daniel juga sudah bisa memenangkan Singapore Open disusul Indonesia Masters di tahun 2023. Leo/Daniel diyakini bisa ikut bersaing dalam perburuan tiket menuju Olimpiade Paris 2024.
Namun setelah itu, perjalanan Leo/Daniel tak secepat yang dibayangkan banyak orang. Mereka kesulitan untuk menang di turnamen level Super 750 dan level Super 1000. Puncaknya, Leo/Daniel tak bisa lolos ke Olimpiade Paris 2024.
Hal inilah yang kemudian mendorong perubahan di nomor ganda putra. Leo dan Daniel dipisah karena nomor ganda putra butuh penyegaran secara keseluruhan setelah gagal di Paris 2024. Leo berpasangan dengan Bagas Maulana sedangkan Daniel disandingkan dengan Muhammad Shohibul Fikri.
Leo/Daniel sudah diharapkan banyak orang untuk jadi andalan sejak mereka masih junior. (dok. PBSI) |
Duet Leo/Daniel jelas sudah terlihat menjauh dari cahaya. Mereka memulai perjalanan baru dengan tidak lagi berpasangan.
Dalam kondisi pisah jalan, Leo dan Daniel terus berjuang bersama pasangan masing-masing. Leo/Bagas dan Fikri/Daniel berusaha keras untuk menembus persaingan papan atas dalam waktu cepat.
Yang terjadi kemudian malah Daniel cedera parah di lutut kiri usai tampil di Piala Sudirman 2025. Daniel harus menjalani operasi dan butuh waktu panjang untuk kembali ke lapangan.
Di sisi lain, Leo/Bagas juga sempat berhasil menembus peringkat 9 dunia dan jadi runner up All England. Namun tak jarang juga mereka merasakan early exit di BWF Tour.
Jelang Japan Open dan China Open 2025, titik awal Leo dan Daniel bersatu dimulai. Memang tak langsung berkaitan namun berhubungan.
Saat itu, Muhammad Rian Ardianto tak bisa ikut Japan Open dan China Open. Pelatih Antonius Budi Ariantho memutuskan untuk memasangkan Fajar Alfian dengan Fikri yang juga sedang tak punya agenda karena menunggu Daniel menjalani proses pemulihan.
Ternyata, duet Fajar/Fikri bisa berbicara banyak dan langsung bersaing di papan atas. Fajar/Fikri pun langsung dipermanenkan beberapa bulan kemudian.
Masuk ke 2026, Daniel sembuh dan dalam kondisi tidak punya pasangan. Leo/Bagas masih berpasangan tetapi hasilnya belum signfikan.
Antonius yang memang sudah membentuk Leo/Daniel jadi pasangan di PB Djarum kemudian mengambil keputusan. Leo dan Daniel kembali berpasangan di lapangan.
Keputusan yang cukup berisiko karena Leo/Daniel terbukti belum bisa menembus papan atas di kesempatan pertama. Ada beban yang langsung mengikuti jejak Leo/Daniel ketika mereka kembali berpasangan.
Leo dan Daniel akhirnya kembali berpasangan. Mereka merintis ulang jalan di saat seharusnya mereka sudah jadi tulang punggung dan andalan.
Dan jalan mereka tidak mudah. Meski sempat jadi juara di turnamen pertama di Thailand, Leo/Daniel masih menjalani hasil turnamen layaknya roller coaster.
Sampai sebelum Asian Games digelar, Leo/Daniel sebenarnya belum menunjukkan kepantasan penuh untuk bisa masuk skuad Asian Games. Prestasi Leo/Daniel masih turun-naik meskipun sudah mengoleksi dua gelar hanya dalam kurun waktu lima bulan.
Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin bisa langsung juara Thailand Open saat kembali berpasangan. (Dok. PBSI) |
Dari segi peringkat, Leo/Daniel bukanlah termasuk dua ganda putra terbaik Indonesia. Masih ada sejumlah ganda lain yang ada di atas mereka.
Namun akhirnya, Antonius Budi memilih Leo/Daniel untuk masuk skuad Asian Games bersama Fajar/Fikri. Pilihan itu yang kemudian dijawab dengan baik oleh Leo/Daniel.
Leo/Daniel ikut menyumbang poin di semifinal dan final nomor beregu putra. Performa apik itu lanjut ke nomor perorangan.
Leo/Daniel tampil luar biasa dan melenggang ke semifinal dengan nyaman. Di babak semifinal dan final, Leo/Daniel mengalahkan Kim Won Ho/Seo Seung Jae dan Liang Weikeng/Wang Chan dalam dua hari beruntun.
Emas Asian Games kini sudah menggantung di leher mereka. Sebuah tanda nyata, bahwa mereka kembali ke jalan yang penuh cahaya.
Hari-hari yang Berbeda untuk Amri/Nita
Cara pandang banyak orang terhadap Amri/Nita berubah setelah Asian Games 2026. ( AFP/YUICHI YAMAZAKI)
Ada yang berbeda dari Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah. Kali ini, Amri/Nita bisa memandang komentar-komentar di media sosial dengan tenang.
Medali perak Asian Games 2026, menyusul medali perunggu Kejuaraan Dunia 2026, membuat penilaian dan cara pandang banyak orang terhadap Amri/Nita berubah. Dan hal itu terjadi hanya dalam hitungan beberapa bulan.
Beberapa bulan lalu, Amri/Nita masih sering jadi sasaran kritik dan bahkan sasaran serangan penggemar bulu tangkis di dunia maya. Banyak kritik yang mengalir pada mereka, mulai dari hasil yang dinilai biasa saja tanpa peningkatan nyata hingga pengiriman rutin ke turnamen tanpa balasan hasil yang memuaskan.
Namun cara pandang publik terhadap Amri/Nita berubah drastis dalam dua bulan terakhir. Setelah membuat kejutan dengan meraih medali perunggu di Kejuaraan Dunia, Amri/Nita seolah memberi penegasan bahwa sukses tersebut bukan sepenuhnya kejutan saat mereka tampil di Asian Games dan pulang dengan medali di tangan mereka.
Di Asian Games, Amri/Nita bisa menembus babak final. Lewat performa luar biasa, Amri/Nita bisa mengalahkan ganda campuran nomor satu dunia, Feng Yanzhe/Huang Dongping di babak semifinal.
Kemenangan itu jadi puncak pembuktian Amri/Nita. Setelah kalah dalam lima pertemuan sebelumnya, Amri/Nita sukses membuat Feng/Huang tak berdaya.
Nita yang berani di depan net dan Amri yang punya smes kuat. Amri/Nita yang gigih berjuang, mengejar ke manapun shuttlecock melayang. Bayangan inilah yang kemudian kini ada di pemikiran banyak orang.
Amri/Nita pada akhirnya memang tak berhasil menyempurnakan langkah ajaib mereka dengan emas di tangan. Namun kalungan medali perak sudah cukup mengubah cara pandang banyak orang terhadap kapasitas mereka sebagai pasangan.
Alwi Farhan jadi salah satu pemain yang tampil apik di Asian Games 2026. (Arsip PBSI) |
Badminton Indonesia yang Kembali Gairah Seiring Hasil yang Cerah
PBSI memutuskan memasang target satu medali emas di Asian Games 2926. Padahal di atas kertas mereka punya tiga andalan yaitu tim beregu putra, Jonatan Christie, dan Fajar/Fikri. Tim beregu putra dan Jonatan jadi unggulan pertama sedangkan Fajar/Fikri jadi unggulan kedua. Tiga wakil itu jelas layak dibebankan target medali emas.
Namun hanya satu target medali emas yang dibebankan pada Tim Badminton Indonesia setelah proses diskusi antara Tim PBSI dan tim-tim terkait.
Melihat situasi yang ada, target satu medali emas ini memang angka yang paling realistis dilihat dari berbagai sudut pandang. Mulai dari situasi terkini hingga ketakutan terhadap beban berlebihan.
Dalam situasi terkini, Indonesia sering gagal di kejuaraan besar. Indonesia sudah lama tidak punya juara dunia. Indonesia juga gagal mendapat medali di Asian Games 2022.
Kedua, memasang target lebih dari satu emas bakal membuat pertanyaan mengemuka sejak awal. Belum lagi jadi beban tambahan bagi wakil yang dijadikan andalan meraih emas.
Dua hal itu sudah cukup jadi indikator bagi PBSI untuk tidak terlalu bersikap bombastis. Mereka seolah tak mau memberikan beban tambahan dengan menyuarakan keras-keras target di atas satu emas.
Tim beregu putra yang berhasil memenuhi target karena nomor ini yang memang jadi andalan. Sedangkan Jonatan dan Fajar/Fikri tidak mampu memenuhi harapan meraih emas.
Tim Beregu Putra Indonesia berhasil menyabet emas pertama Indonesia di Asian Games 2026. (Arsip PBSI) |
Namun di balik itu, muncul Leo/Daniel dan Amri/Nita yang mampum menembus babak final. Leo/Daniel meneruskan langkah mereka jadi juara sedangkan Amri/Nita bisa memberikan perak untuk Indonesia.
Berkaca dari hal ini, jelas terlihat betapa nyamannya bila memiliki pemain andalan. 1-2 pemain gugur di tengah jalan, masih ada wakil lainnya yang berjuang melanjutkan.
Di Asian Games kali ini, Amri/Nita dan Leo/Daniel masih berstatus non unggulan. Artinya hasil yang mereka dapat pun masih sering diberi label kejutan.
Namun menilik performa yang mereka tampilkan, Amri/Nita dan Leo/Daniel punya potensi untuk jadi andalan. Dari turnamen ke turnamen, mereka bisa terus jadi pemain yang diharapkan.
Bukan hanya Leo/Daniel dan Amri/Nita, ada nama Alwi Farhan, hingga Moh Zaki Ubaidillah yang mencuri perhatian di Asian Games 2026. Nama-nama ini membuat Indonesia punya peluang untuk memiliki lebih banyak pemain papan atas, bukan hanya Jonatan dan Fajar/Fikri.
Moh Zaki Ubaidillah tampil memukau dan jadi penentu kemenangan Indonesia atas China di final beregu putra Asian Games. (Arsip PBSI) |
Prestasi Tim Badminton Indonesia juga disambut positif oleh penggemar, di dunia nyata dan dunia maya. Terasa gairah dan kebanggaan yang sempat menghilang. Sebuah bukti bahwa prestasi akan selalu jadi magnet bagi banyak orang untuk memperhatikan dan terus mengikuti.
PBSI telah sukses menunaikan tugasnya di Asian Games 2026. Badminton Indonesia kembali ke tempat terhormat dengan catatan 2 emas, 1 perak, dan 3 perunggu. Jelas jauh lebih baik dibanding saat mendapat catatan kelam empat tahun silam.
Setelah tugas di Aichi-Nagoya bisa diselesaikan dengan baik, PBSI akan terus berjalan dengan target besar selanjutnya. Piala Sudirman dan Kejuaraan Dunia di tahun depan, hingga Olimpiade pada 2028 mendatang.
Namun berbeda dengan beberapa waktu sebelumnya, kini ada kepercayaan diri yang tertanam lebih kuat di dalam diri pebulutangkis Indonesia. Percaya bahwa pebulutangkis Indonesia masih layak bersaing di level elite dunia.
[Gambas:Video CNN]