Pelatih Bangladesh Protes Durasi Tambahan Waktu Lawan Indonesia

CNN Indonesia
Sabtu, 03 Okt 2026 05:10 WIB
Mitchell Baker beraksi saat Timnas Indonesia menghadapi Bangladesh pada laga fase grup FIFA ASEAN Cup 2026 di SUGBK, Kamis (1/10). (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Duel Timnas Indonesia vs Bangladesh menghadirkan drama pada menit-menit akhir. (CNNIndonesia/Adi ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pelatih timnas Bangladesh, Thomas Dooley, menyampaikan protes soal durasi tambahan waktu saat menghadapi Timnas Indonesia pada laga penentuan Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Jakarta, Kamis (1/10).

Dalam pertandingan itu, awalnya tampilan layar stadion dan alat penunjuk durasi yang dipegang wasit keempat, Yusuke Ohashi menunjukkan angka dua tanda periode dua menit untuk tambahan waktu.

Tak lama kemudian, wasit Nasruollo Kabirov asal Tajikistan mengoreksi durasi menjadi tujuh menit. Situasi ini jadi polemik meski dalam aturan Laws of The Game, wasit tengah berhak menambah durasi namun tak boleh menguranginya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ketika awalnya diberikan tambahan waktu dua menit, tiba-tiba berubah menjadi tujuh menit setelah kami mencetak gol. Saya melihatnya sebagai sisi yang kurang baik bagi kami, artinya Indonesia mendapat waktu lebih panjang untuk mencetak satu atau dua gol lagi," kata Dooley dalam konferensi pers usai laga.

Bangladesh kalah 2-9 dalam laga tersebut. Kekecewaan disampaikan Thomas Dooley meski mampu menyarangkan dua gol ke gawang skuad Garuda.

"Karena itu, kami sedikit kecewa dengan beberapa keputusan yang dibuat.Bukan berarti keputusan tersebut tidak membantu kami dalam pertandingan, tetapi cara melihatnya memang berbeda. Kami melihatnya dari perspektif yang berbeda," ujarnya.

Kendati demikian, mantan asisten Jurgen Klinsmann di timnas Amerika Serikat itu ingin mengambil pelajaran berharga dari kegagalan di FIFA ASEAN Cup 2026. Sebagai tim anggota Federasi Sepak Bola Asia Selatan (SAFF), Bangladesh menjadikan undangan ikut turnamen di Asia Tenggara bekal penting.

"Kami harus menganalisis semuanya dan berbicara dengan para pemain mengenai apa yang mereka rasakan dari perbedaan level tersebut serta apa yang harus mereka pelajari dalam beberapa pekan ke depan sebelum turnamen SAFF dimulai," ucapnya.

[Gambas:Video CNN]

(ikw/nva)