Final Indonesia vs Thailand: Tendang Melankolia, Peluk Extravaganza
Abdul Susila | CNN Indonesia
Senin, 05 Okt 2026 06:30 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Supachok Sarachat (kanan) bisa menjadi pemain kunci Thailand saat menghadapi Timnas Indonesia. (REUTERS/Molly Darlington)
Saat menang 2-0 atas Singapura, permainan Timnas Indonesia seperti tanpa gairah. Daya juang lemah. Alibi 'jet lag' John Herdman bisa diterima, tetapi dianggap terlalu diada-ada.
Ketika imbang 0-0 melawan Malaysia, setelah bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-37, amarah suporter membuncah. Kritik pedas pun menggema: nama mantan pelatih (Shin Tae Yong) diteriakkan.
Suporter bukan tidak menghargai pemain dan pelatih, tetapi kecewa dengan situasi yang terjadi. Ini yang memicu histeria. Melankolia seperti datang lagi. Suporter kembali frustrasi.
Rupanya, 'pekik di depan muka' itu memicu aksi heroik. Dalam laga melawan Bangladesh, yang sangat pantas dimenangkan, pemain menunjukkan daya juang besar seperti dalam Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Hanya dalam tempo dua menit, dua gol dicipta, saat nasib sudah di ujung tanduk. Ada emosi, gairah, ambisi, visi, dan juga misi yang terkombinasi dalam laga malam Jumat tersebut.
Namun, cerita pada Kamis (1/1) malam tersebut, tinggal sejarah. Mungkin kekal dalam historia FIFA ASEAN CUP edisi perdana, tetapi yang akan abadi adalah juara. Yang tercatat adalah sang kampiun.
Inilah tugas segenap pemain Timnas Indonesia dalam laga melawan Thailand: memastikan kemenangan, meraih trofi juara, menuntaskan dahaga gelar juara yang dinanti selama 35 tahun.
Dari segi skuad, Timnas Indonesia unggul atas Thailand. Latar belakang pemain Indonesia jauh lebih mentereng. Namun, pemain Thailand, juga punya soliditas yang terbilang kuat.
Supachok Sarachat, Sarach Yooyen, Chanathip Songkrasin, dan Supachai Chaided, adalah beberapa nama yang berpotensi merepotkan. Mereka sudah main bersama lebih dari enam tahun.
Thailand juga 'menyimpan' tenaganya pada laga sebelumnya untuk final ini. Pemain Thailand akan tampil dalam partai final dengan kondisi sangat bugar dan penuh ambisi.
Bisa apa Indonesia? Jika daya juangnya sama seperti saat melawan Bangladesh, asal tidak selengah laga itu, kans meraih gelar juara untuk pertama kalinya sejak 1991 sangat mungkin terjadi.
Sejak 1991, enam kali Indonesia tampil di partai final Piala AFF dan sekali di SEA Games (sebelum diubah untuk pemain U-23 sejak 2001, tak ada gelar yang berhasil diraih Timnas Indonesia.
Dari enam final Piala AFF, empat kali berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Hasilnya, histeria. Ini adalah kondisi psikologis yang ditandai ekspresi emosi berlebihan dan perilaku tak terkendali.
Bagaimana tak emosi, Indonesia pada akhirnya selalu gagal mengangkat trofi. Indonesia, sejak dijajah Belanda, seperti ditakdirkan menjadi pecundang. Bangsa yang kalah perang.
Tim Merah Putih hanya bisa mengangkat piala di level turnamen kecil, seperti Piala Kemerdekaan Indonesia 2000 dan 2008, di mana sejumlah tim luar negeri diundang menjadi peserta.
Oleh karena itu benak, hati, dan pikiran suporter Timnas Indonesia sudah lama diselimuti melankolia; rasa putus asa. Kepercayaan selalu dipupuk, tetapi tak lama setelah itu langsung diracun.
Kini, secercah harapan prestasi datang lagi: final FIFA ASEAN Cup 2026. Timnas Indonesia akan bentrok dengan Thailand pada partai final di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Senin (5/10).
Turnamen yang diinisiasi pemimpin-pemimpin ASEAN dengan Gianni Infantino lewat memorandum of understanding (MoU) pada 2025 ini bisa menjadi titik tolok prestasi Indonesia di masa depan.
Bagaimanapun, sudah 35 tahun suporter Timnas Indonesia menanti gelar juara yang tak kunjung tiba. Sebuah extravaganza sangat dinantikan sebagai pelipur lara di dalam dada.
Akankah Kevin Diks dan kawan-kawan membuat extravaganza di GBK pada Senin (5/10) malam? Harapannya tentu saja, iya. Namun, Thailand si Raja ASEAN, bukan tim kacangan.
Sejarah mencatat, Thailand adalah penggagal utama Indonesia di banyak pentas olahraga, termasuk sepak bola. Karena itu kecerdikan strategi John Herdman akan diuji The War Elephant.
Soliditas Thailand Sudah Terjalin Lebih Lama
Supachok Sarachat (kanan) bisa menjadi pemain kunci Thailand saat menghadapi Timnas Indonesia. (REUTERS/Molly Darlington)
Saat menang 2-0 atas Singapura, permainan Timnas Indonesia seperti tanpa gairah. Daya juang lemah. Alibi 'jet lag' John Herdman bisa diterima, tetapi dianggap terlalu diada-ada.
Ketika imbang 0-0 melawan Malaysia, setelah bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-37, amarah suporter membuncah. Kritik pedas pun menggema: nama mantan pelatih (Shin Tae Yong) diteriakkan.
Suporter bukan tidak menghargai pemain dan pelatih, tetapi kecewa dengan situasi yang terjadi. Ini yang memicu histeria. Melankolia seperti datang lagi. Suporter kembali frustrasi.
Rupanya, 'pekik di depan muka' itu memicu aksi heroik. Dalam laga melawan Bangladesh, yang sangat pantas dimenangkan, pemain menunjukkan daya juang besar seperti dalam Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Hanya dalam tempo dua menit, dua gol dicipta, saat nasib sudah di ujung tanduk. Ada emosi, gairah, ambisi, visi, dan juga misi yang terkombinasi dalam laga malam Jumat tersebut.
Namun, cerita pada Kamis (1/1) malam tersebut, tinggal sejarah. Mungkin kekal dalam historia FIFA ASEAN CUP edisi perdana, tetapi yang akan abadi adalah juara. Yang tercatat adalah sang kampiun.
Inilah tugas segenap pemain Timnas Indonesia dalam laga melawan Thailand: memastikan kemenangan, meraih trofi juara, menuntaskan dahaga gelar juara yang dinanti selama 35 tahun.
Dari segi skuad, Timnas Indonesia unggul atas Thailand. Latar belakang pemain Indonesia jauh lebih mentereng. Namun, pemain Thailand, juga punya soliditas yang terbilang kuat.
Supachok Sarachat, Sarach Yooyen, Chanathip Songkrasin, dan Supachai Chaided, adalah beberapa nama yang berpotensi merepotkan. Mereka sudah main bersama lebih dari enam tahun.
Thailand juga 'menyimpan' tenaganya pada laga sebelumnya untuk final ini. Pemain Thailand akan tampil dalam partai final dengan kondisi sangat bugar dan penuh ambisi.
Bisa apa Indonesia? Jika daya juangnya sama seperti saat melawan Bangladesh, asal tidak selengah laga itu, kans meraih gelar juara untuk pertama kalinya sejak 1991 sangat mungkin terjadi.