Timnas Indonesia: Takson Lazarus King of ASEAN Lewat Turnamen FIFA
Abdul Susila | CNN Indonesia
Selasa, 06 Okt 2026 19:21 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Timnas Indonesia meraih gelar juara FIFA ASEAN Cup 2026 usai mengalahkan Thailand. (CNN Indonesia/Adi ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --
Dalam dunia paleontologi, Timnas Indonesia ibarat spesies yang ada dan tiada. Lewat juara FIFA ASEAN Cup 2026, Garuda jadi takson lazarus.
Lazarus Taxon atau takson lazarus adalah istilah untuk spesies yang sempat dikira punah, ternyata masih hidup. Eksistensinya itu ditemukan lagi dari sebuah momentum bersejarah.
Gelar juara FIFA ASEAN Cup 2026 bisa dibilang momentum takson lazarus Timnas Indonesia. Setelah kering gelar selama 35 tahun, tim Merah Putih akhirnya menuntaskan dahaga gelar.
Untuk mencapai gelar juara, Kevin Diks dan kawan-kawan berjuang ekstra keras. Dari babak grup, eksistensi tim Merah Putih diragukan, bahkan oleh pendukungnya sendiri.
Saat menang 2-0 atas Singapura pada 25 September, sebagian besar suporter kecewa. Kemenangan diapresiasi, tetapi cara yang ditampilkan pemain mendapat kritik tajam.
Formula racikan John Herdman seperti jauh panggang dari api. Tolok ukurnya, laga uji coba melawan Bulgaria. Meski kalah 0-1 dari Bulgaria, publik bahagia sebab seperti ada secercah harapan.
Ekspektasi publik rupanya terbentur tembok. Bukannya gaya main yang ganas dan liberal, apalagi indah, yang terpampang adalah permainan kurang pola dengan daya juang terlalu lemah.
Ketika melawan Malaysia, kekecewaan suporter memuncak. Meski tampil spartan dengan 10 pemain sejak menit ke-37 dengan hasil imbang 0-0, kekecewaan telah memuncak.
Namun, kekecewaan itu bukan berarti menghapus dukungan. Tidak pernah dalam sejarah fan Timnas Indonesia meninggalkan Garuda sendirian berjuang di atas lapangan.
'Tamparan' itu membuat semangat juang pemain Indonesia menyala-nyala. Hasilnya menang 9-2. Lolos ke final. Namun, keraguan akan kualitas permainan belum sirna.
Pada titik ini Timnas Indonesia masih belum dianggap eksis. Kalau cuma final, sudah enam kali pemain era sebelumnya mencapai itu. Yang dinanti adalah reinkarnasi; sebuah gelar juara.
Sejak 2013, Indonesia dikenal sebagai tim nasional yang bisa mencapai sukses di level usia saja. Begitu memasuki fase senior, tunas-tunas itu layu.
Thailand, Vietnam, dan Malaysia, lebih eksis dibanding Indonesia. Namun, 'ejekan' tersebut dipatahkan pada 2026 ini. Sindiran lainnya, raja tanpa mahkota, sudah tak pantas disematkan ke Indonesia.
Lewat pertandingan 120 menit plus adu penalti, yang potongan videonya masih FYP (for your page) di beranda berbagai media sosial populer, Timnas Indonesia reinkarnasi.
Ya, skuad Garuda menegaskan bahwa sang raja Asia Tenggara telah lahir kembali. Sang penguasa sesungguhnya telah revive. Titik takson lazarus king of ASEAN telah diikrarkan dengan lantang.
Melawan Thailand, tim yang kaya pengalaman dan mentalitas baja, Indonesia mendominasi. Ole Romeny dan kolega Mengurung pertahanan tim Gajah Putih hingga persentase 65 berbanding 35.
Namun, Thailand yang kalah jumlah pemain malah bisa menyamakan kedudukan menjadi 1-1, memaksa perpanjangan waktu dua kali 15 menit, dan berbalik unggul 2-1 di menit ke-111.
Saat tertinggal inilah para pemain menunjukkan mentalitas pejuangnya. Serangan dibangun dengan rasa percaya. Rasa percaya diri yang hampir mati bisa dihidupkan kembali.
Awalnya, Rizky Ridho mengumpan Egy Maulana Vikri di sisi kanan. Ridho kemudian masuk ke kotak penalti saat Egy merangsek, lantas naluri Egy menilai Ridho dalam posisi ideal dan mengumpannya.
Ridho, yang berposisi asli bek tengah, menghadap tiang dan berusaha mengumpan. Sepakannya malah mengarah gawang dan ditepis kiper Thailand. Rupanya bola mengarah ke Elkan Baggott.
Pemain Millwall itu mencetak gol. Menyamakan 2-2 dan memaksa terjadinya penalti. Sekali lagi, mentalitas juara Indonesia menyala-nyala. Empat eksekutor Indonesia sukses menjadi algojo 12 pas.
Kini Timnas Indonesia telah beraura raja lagi. Setelah 35 tahun hibernasi, gelar juara ASEAN (walau bukan Piala AFF) dikuasi kembali. Selanjutnya, bisakah eksistensi ini menginspirasi?
Dalam dunia paleontologi, Timnas Indonesia ibarat spesies yang ada dan tiada. Lewat juara FIFA ASEAN Cup 2026, Garuda jadi takson lazarus.
Lazarus Taxon atau takson lazarus adalah istilah untuk spesies yang sempat dikira punah, ternyata masih hidup. Eksistensinya itu ditemukan lagi dari sebuah momentum bersejarah.
Gelar juara FIFA ASEAN Cup 2026 bisa dibilang momentum takson lazarus Timnas Indonesia. Setelah kering gelar selama 35 tahun, tim Merah Putih akhirnya menuntaskan dahaga gelar.
Untuk mencapai gelar juara, Kevin Diks dan kawan-kawan berjuang ekstra keras. Dari babak grup, eksistensi tim Merah Putih diragukan, bahkan oleh pendukungnya sendiri.
Saat menang 2-0 atas Singapura pada 25 September, sebagian besar suporter kecewa. Kemenangan diapresiasi, tetapi cara yang ditampilkan pemain mendapat kritik tajam.
Formula racikan John Herdman seperti jauh panggang dari api. Tolok ukurnya, laga uji coba melawan Bulgaria. Meski kalah 0-1 dari Bulgaria, publik bahagia sebab seperti ada secercah harapan.
Ekspektasi publik rupanya terbentur tembok. Bukannya gaya main yang ganas dan liberal, apalagi indah, yang terpampang adalah permainan kurang pola dengan daya juang terlalu lemah.
Ketika melawan Malaysia, kekecewaan suporter memuncak. Meski tampil spartan dengan 10 pemain sejak menit ke-37 dengan hasil imbang 0-0, kekecewaan telah memuncak.
Namun, kekecewaan itu bukan berarti menghapus dukungan. Tidak pernah dalam sejarah fan Timnas Indonesia meninggalkan Garuda sendirian berjuang di atas lapangan.
'Tamparan' itu membuat semangat juang pemain Indonesia menyala-nyala. Hasilnya menang 9-2. Lolos ke final. Namun, keraguan akan kualitas permainan belum sirna.
Pada titik ini Timnas Indonesia masih belum dianggap eksis. Kalau cuma final, sudah enam kali pemain era sebelumnya mencapai itu. Yang dinanti adalah reinkarnasi; sebuah gelar juara.
Timnas Indonesia jadi 'Raja ASEAN' lagi setelah 35 tahun. (CNN Indonesia/Adi ibrahim)
Sejak 2013, Indonesia dikenal sebagai tim nasional yang bisa mencapai sukses di level usia saja. Begitu memasuki fase senior, tunas-tunas itu layu.
Thailand, Vietnam, dan Malaysia, lebih eksis dibanding Indonesia. Namun, 'ejekan' tersebut dipatahkan pada 2026 ini. Sindiran lainnya, raja tanpa mahkota, sudah tak pantas disematkan ke Indonesia.
Lewat pertandingan 120 menit plus adu penalti, yang potongan videonya masih FYP (for your page) di beranda berbagai media sosial populer, Timnas Indonesia reinkarnasi.
Ya, skuad Garuda menegaskan bahwa sang raja Asia Tenggara telah lahir kembali. Sang penguasa sesungguhnya telah revive. Titik takson lazarus king of ASEAN telah diikrarkan dengan lantang.
Melawan Thailand, tim yang kaya pengalaman dan mentalitas baja, Indonesia mendominasi. Ole Romeny dan kolega Mengurung pertahanan tim Gajah Putih hingga persentase 65 berbanding 35.
Namun, Thailand yang kalah jumlah pemain malah bisa menyamakan kedudukan menjadi 1-1, memaksa perpanjangan waktu dua kali 15 menit, dan berbalik unggul 2-1 di menit ke-111.
Saat tertinggal inilah para pemain menunjukkan mentalitas pejuangnya. Serangan dibangun dengan rasa percaya. Rasa percaya diri yang hampir mati bisa dihidupkan kembali.
Awalnya, Rizky Ridho mengumpan Egy Maulana Vikri di sisi kanan. Ridho kemudian masuk ke kotak penalti saat Egy merangsek, lantas naluri Egy menilai Ridho dalam posisi ideal dan mengumpannya.
Ridho, yang berposisi asli bek tengah, menghadap tiang dan berusaha mengumpan. Sepakannya malah mengarah gawang dan ditepis kiper Thailand. Rupanya bola mengarah ke Elkan Baggott.
Pemain Millwall itu mencetak gol. Menyamakan 2-2 dan memaksa terjadinya penalti. Sekali lagi, mentalitas juara Indonesia menyala-nyala. Empat eksekutor Indonesia sukses menjadi algojo 12 pas.
Kini Timnas Indonesia telah beraura raja lagi. Setelah 35 tahun hibernasi, gelar juara ASEAN (walau bukan Piala AFF) dikuasi kembali. Selanjutnya, bisakah eksistensi ini menginspirasi?