Pernyataan Lengkap Ronaldo usai Tinggalkan Timnas Portugal

CNN Indonesia
Rabu, 07 Okt 2026 07:29 WIB
Soccer Football - Nations League - Group A4 - Norway v Portugal - Ullevaal Stadion, Oslo, Norway - September 27, 2026 Portugal's Cristiano Ronaldo on the substitutes bench before the match Lise Aserud/NTB via REUTERS    ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE
Kapten timnas Portugal, Cristiano Ronaldo memberikan pernyataan lengkap soal keputusan meninggalkan kamp. (via REUTERS/NTB)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kapten timnas Portugal, Cristiano Ronaldo mengunggah pesan sangat panjang dalam unggahan di media sosial pada Rabu (7/10) dini hari WIB. Unggahan itu berkaitan situasi yang terjadi belakangan dengan pelatih Portugal, Jorge Jesus.

Dalam unggahan yang mencapai hampir 2000 kata itu, Ronaldo dengan tegas menyampaikan bahwa dirinya merasa dibohongi oleh sang pelatih. Kebohongan itu disampaikan dilakukan dua kali oleh mantan pelatihnya di klub Arab Saudi, Al Nassr.

Ronaldo pun meminta maaf kepada rekan-rekan setimnya terkait keputusannya meninggalkan timnas Portugal. Striker berusia 41 tahun itu bahkan mendorong Federasi Sepak Bola Portugal (PFF) untuk menjatuhkan sanksi atas tindakannya itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut pernyataan lengkap Cristiano Ronaldo yang disampaikan melalui media sosial Instagram:

Sebagaimana yang telah saya janjikan, saya telah memutuskan untuk menceritakan kembali, dalam sudut pandang orang pertama dan secara langsung, keadaan yang melingkupi tahap terbaru dari perjalanan tim nasional.

Setelah Piala Dunia 2026, saya menyiapkan sebuah pesan untuk masyarakat Portugal, yang masih saya simpan, berisi kata-kata yang ingin saya sampaikan kepada mereka ketika saya akhirnya meninggalkan tim ini.

Di akhir turnamen, dalam penerbangan pulang dari Amerika Serikat, presiden federasi meminta dan mendesak saya untuk mempertimbangkan kembali keputusan saya untuk pensiun, karena Federasi Sepak Bola Portugal berharap saya untuk terus bermain.

Segera setelah itu, dia meminta pendapat saya tentang nama pelatih tim nasional saat ini, yang sedang dia pertimbangkan, di samping nama-nama lain yang tidak dia ungkapkan kepada saya.

Saya menjawab presiden federasi bahwa, menurut pendapat saya, itu akan menjadi pilihan yang ideal. Oleh karena itu, pada hari pelatih tim nasional saat ini diperkenalkan, saya sungguh-sungguh bahagia dengan pilihan ini. Itu adalah pilihan yang tepat, sebagaimana yang dibuktikan oleh hasil-hasilnya.

Beberapa hari kemudian, saya menerima panggilan pertama dari pelatih baru tim nasional, di mana dia mengatakan dia ingin bertemu dengan saya secara langsung. Saya menyetujuinya, dan kami menentukan tanggal untuk itu. "Akhir dari liburan saya."

Kami bertemu di kota sepak bola tempat tim saya mengadakan pemusatan latihan pra-musim.

Pada hari itu pelatih memberi tahu saya bahwa dia mengandalkan saya dan bahwa kehadiran saya sangat penting untuk proyeknya. Dia menyajikan kepada saya sebuah rencana untuk partisipasi langsung saya. Dia mengatakan saya akan bermain pada pertandingan pertama dan terakhir, dan bahwa dia akan melakukan tiga atau empat perubahan dalam setiap pertandingan karena alasan-alasan yang berkaitan dengan kebugaran fisik.

Pada titik itu, dia menyarankan agar saya tidak bepergian dengan tim nasional ke Norwegia dan Denmark. Dia menyarankan agar saya bermain di pertandingan pertama dan tinggal di Portugal, kemudian bergabung dengan mereka sebelum pertandingan di stadion Dragão.

Saya menolak saran ini dengan segera. Tampak jelas bagi saya bahwa saya tidak dapat menerimanya. Tidak memainkan pertandingan-pertandingan di luar negeri tidak berarti bahwa saya tidak akan menjadi kapten tim kita. Hak istimewa untuk tinggal di Portugal tidak akan memberikan contoh yang baik.

Pada akhirnya, pelatih menyetujui analisis saya.

Percakapan ini dihadiri oleh Simo Coutinho, direktur olahraga Al-Nassr, sosok yang kepadany pelatih tim nasional saat ini melapor sepanjang musim lalu, dan salah satu orang yang bertanggung jawab atas kepindahannya ke klub tersebut pada tahun 2025.

Pada malam menjelang pemusatan latihan, pelatih datang ke rumah saya di Lisbon untuk melakukan percakapan lain dengan saya atas permintaannya. Percakapan itu berlangsung tenang, dan kami mematuhi semua prinsip yang disepakati pada bulan Agustus. Saya memainkan pertandingan di stadion Alvalade, dan meskipun digantikan, saya tidak menimbulkan masalah.

Saya secara pribadi memasangkan ban kapten kepada Bruno Fernandes, dan tidak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa saya mungkin sedang mengambil langkah-langkah terakhir saya sebagai pemain dan kapten tim nasional. Hal terpenting hari itu, bagi saya, adalah kemenangan kami. Menang selalu merupakan hal yang baik, dan di Portugal, dan untuk negara saya, itu adalah yang terbaik.

Pada waktu makan siang pada hari pertandingan di Norwegia, asisten pelatih tim nasional datang ke meja tempat tim sedang makan siang, dan memberi tahu saya bahwa pelatih ingin berbicara dengan saya. Yang sangat mengejutkan saya, pelatih bertanya kepada saya apakah saya siap untuk bermain 30 menit. Saya fokus sepenuhnya pada pemulihan fisik saya, berbaur dengan rekan-rekan tim saya seperti biasa, dan percaya bahwa saya tidak akan bermain hari itu. Tidak ada masalah sama sekali.

Permintaan ini berada di luar pemulihan fisik dan rencana latihan saya, karena saya hanya akan bermain pada tanggal empat bulan ini di stadion Dragão, tetapi tentu saja saya setuju. Dia menjawab saya bahwa saya harus siap karena saya akan bermain 30 menit.

Sisanya sudah banyak diketahui. Saya mulai melakukan pemanasan dari babak pertama, dan saya menyaksikan menit-menit berlalu, dan tidak ada seorang pun yang memanggil saya. Pelatih melanggar janjinya.

Di akhir pertandingan, saya hanya ingin semuanya berakhir dengan kemenangan dan berada sendirian. Saya tidak pergi untuk menyapa para penggemar. Sebuah kesalahan yang saya tanggung sepenuhnya, dan yang seharusnya tidak terjadi.

Saya meminta maaf kepada masyarakat Portugal yang mendukung kami dengan antusias di sana, saya meminta maaf kepada para penggemar, dan saya meminta maaf kepada mereka yang bepergian ke sana untuk melihat saya, bahkan jika mereka bukan orang Portugal, dan yang mungkin telah saya kecewakan.

Empat puluh delapan jam kemudian, kami melakukan percakapan, saya sendiri, pelatih dan Simo Coutinho, karena dia mengikuti percakapan kami. Itu adalah momen yang sangat mendalam dan jujur, tanpa ada keraguan.

Kami sepakat bahwa hanya ada satu cara untuk mengakhiri "kasus" ini: bahwa pelatih akan mengulangi apa yang baru saja dia katakan kepada saya secara pribadi, di hadapan Simo Coutinho, tetapi di ruang konferensi pers.

Kesepakatannya sederhana: pelatih akan memulai konferensi pers dengan subjek ini, mencoba mengakhiri masalah ini dengan mengatakan kebenaran. Dia akan mengatakan bahwa saya tidak pernah meminta untuk bermain bahkan untuk beberapa menit, dan bahwa pelatih sendiri, tidak ada orang lain, adalah orang yang mengusulkan rencana untuk pemusatan latihan ini, dan bahwa itu adalah sebuah kesalahan dengan melibatkan saya hanya dalam pemanasan tanpa bermain, dan bahwa, jika itu terjadi lagi, dia tidak akan melakukannya.

Kami mengakhiri pertemuan itu dengan pelatih meminta pelukan dari saya, dan dia berjanji kepada saya bahwa dia akan mengatakan di konferensi pers apa yang baru saja dia katakan kepada saya, dan bahwa masalah tersebut telah diselesaikan.

Saya tidak akan bermain di Denmark, tetapi saya akan bermain untuk pertandingan di Dragão. Semua ini terjadi di hadapan Simo Coutinho, seperti biasa.

Atas permintaan pelatih, sebuah pertemuan video diadakan antara dia, Simo Coutinho dan Tiago Craveiro, untuk merangkum apa yang telah kami diskusikan. Sebuah dokumen singkat disiapkan, yang saya setujui secara pribadi, dan itu diserahkan kepada pelatih atas permintaannya.

Pertemuan itu seperti yang diharapkan: perilakunya tidak ada hubungannya dengan pertemuan kami. Saya mendengar ungkapan-ungkapan dan agresi yang saya anggap tidak beralasan, dan sikap yang menunjukkan bahwa dia "menginginkan, dapat, dan memerintah" yang tidak pernah dia tunjukkan kepada saya, bahkan tidak secara tidak langsung, dalam sesi pribadi, sehari sebelumnya.

Catatan yang saya tinjau adalah sebagai berikut: Saya percaya ini penting, karena ini adalah kebenaran, untuk memperjelas beberapa hal sebelum berbicara tentang Denmark:

1. Saya pribadi mengusulkan sebuah rencana untuk Cristiano, tanpa orang lain, untuk musim ini bersama tim nasional. Itu adalah percakapan yang panjang dan sangat berjalan baik.

2. Saya tahu betapa dia mencintai tim nasional dan status globalnya, dan lebih dari itu, betapa positif pengaruhnya terhadap tim nasional selama 24 tahun berturut-turut.

3. Rencana yang saya usulkan kepada Cristiano telah diterima.

4. Dia tidak pernah mempertanyakan pilihan-pilihan saya. Dia adalah sebuah contoh untuk diikuti, setia, dan profesional.

5. Pertandingan Norwegia tidak termasuk dalam rencana yang telah saya tetapkan untuknya. Namun, saya merasa bahwa dia telah pulih secara fisik dari pertandingan pertama, dan saya memperingatkannya bahwa saya mungkin terpaksa untuk memasukkannya. Cristiano setuju.

6. Saya membuat kesalahan dengan melibatkan pemain sebesar Pele atau Maradona hanya dalam pemanasan tanpa melibatkannya dalam pertandingan. Jika itu terjadi hari ini, saya tidak akan melakukan itu.

7. Singkatnya: Saya menginginkan Cristiano di tim nasional. Sebenarnya, saya tidak menginginkan sedikit, saya sangat menginginkannya. Dan untungnya, dia juga percaya kepada saya. Dia percaya kepada saya di Al-Nassr dan di sini juga.

8. Adapun soal tidak menyapa para penggemar, kami telah berbicara tentang masalah ini sebelumnya. Seorang pemain yang telah bermain lebih dari 230 pertandingan dengan tim nasional tidak mengambil pelajaran dari saya dalam mencintai Portugal. Itu adalah momen frustrasi yang tidak menghapus apa pun. Dia adalah pemain yang paling banyak menandatangani, paling banyak mengambil foto selfie, dan menunjukkan kasih sayang paling banyak kepada para penggemar. Janganlah kita membuat masalah dari bukan apa-apa. Ketika kita tidak bahagia, kita bereaksi. Itu saja. Oleh karena itu, tidak ada satu pun dari catatan ini yang menyebutkan bahwa pelatih telah meminta maaf kepada saya.

Ini adalah kedua kalinya dia melanggar janjinya.

Saya memutuskan untuk meninggalkan pemusatan latihan tanpa menunggu janji lain yang tidak akan ditepati. Bagi saya, kebenaran tetap menjadi hal terpenting dalam hubungan antar manusia. Bagaimanapun menyakitkannya, saya ingin kebenaran disampaikan kepada saya.

Bahkan, dalam percakapan yang saya lakukan dengan presiden Federasi Sepak Bola Portugal dan pelatih pada pagi hari konferensi pers itu, Anda dapat memverifikasi ini, saya memastikan kepada mereka bahwa jika mereka tidak menginginkan kehadiran saya, mereka harus memberi tahu saya. Mereka hanya harus jujur dengan saya. Saya akan menerimanya dan berjanji kepada mereka bahwa kami akan menyiapkan sesuatu yang luar biasa, sebagaimana yang saya harapkan akan terjadi, dan tidak ada orang yang akan marah.

Saya mengingatnya seolah-olah itu terjadi kemarin. Mereka menjawab dengan satu suara dalam penolakan. Bahwa tempat saya adalah di tim nasional.

Saya tidak pernah mengintervensi, pada saat kapan pun, dalam keputusan teknis atau taktis apa pun dari pelatih atau pejabat tim nasional mana pun sepanjang hampir 25 tahun karier saya. Saya menerima, apakah itu baik atau buruk, apa yang mereka usulkan. Saya menghormati keputusan tersebut, dan ketika mereka melanggar janji mereka kepada saya, saya merasa bahwa tempat saya bukan di sini.

Saya juga meminta maaf kepada rekan-rekan tim nasional saya karena meninggalkan pemusatan latihan. Sebab, terlepas dari pengkhianatan yang diakukan pelatih-seperti yang dapat dikonfirmasi oleh semua orang yang menyaksikan percakapan tersebut-saya tidak seharusnya melakukan itu. Tanggung jawab berada pada saya sendiri.

Saya meminta maaf kepada masyarakat Portugal sekali lagi, tetapi pelanggaran janji itu memiliki efek yang mendalam bagi saya. Saya merasa bahwa keberlanjutan saya dengan tim, dari saat itu, hanya akan merugikan, jadi saya melakukan apa yang selalu saya katakan akan saya lakukan jika saya tidak merasa berguna: saya mengemas tas saya dan pergi.

Federasi Sepak Bola Portugal harus menilai konsekuensi dari tindakan saya dan menghukum saya karenanya. Saya percaya hukuman tersebut tidak boleh dikurangi. Saya bukan hanya seorang pemain biasa; saya adalah kapten tim, dan itu adalah faktor yang memperberat. Saya sudah meminta maaf, tetapi saya tahu bahwa tindakan memiliki konsekuensi. Siapa pun di dunia sepak bola, seperti saya, tahu bahwa aturannya sama untuk semua orang, tanpa memandang kedudukan individu.

Dalam hal ini, saya telah mendengar banyak tentang pertandingan perpisahan, dan bahwa saya membutuhkan perpisahan yang layak bagi saya, dan bahwa federasi berharap untuk memberi saya kesempatan ini.

Saya belajar dalam hidup, saat menderita kelaparan dan tidak memiliki apa pun untuk dimakan, bahwa tidak ada orang yang memberikan apa pun kepada siapa pun secara gratis. Saya dapat berjanji kepada semua penggemar saya, dan khususnya masyarakat Portugal, bahwa kami akan memainkan satu atau lebih pertandingan perpisahan; akan ada waktu untuk itu.

Tetapi ketika saya berpikir tentang tim nasional, apa yang benar-benar saya pikirkan adalah kompetisi. Itulah yang saya pikirkan pada hari saya menerima kabar tentang kematian ayah saya. Saya berada di pemusatan latihan dengan tim nasional kita, dan saya memutuskan untuk tinggal di sana sampai akhir pertandingan hari berikutnya. Saya melakukan untuk negara saya apa yang tidak akan pernah saya lakukan untuk klub mana pun.

Jadi, jika saya bugar secara fisik, bermain dengan tim saya, dan berharap untuk mencetak gol, setelah masa skorsing saya berakhir, saya akan tersedia, seperti yang selalu saya lakukan, untuk bertanding dan menang dengan tim nasional kita.

Ini, percayalah kepada saya, adalah kebenaran yang mutlak.

[Gambas:Video CNN]

(jal/sry)