PSSI mencanangkan, Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia pada 2034. Pada 2030, dalam edisi satu abad turnamen, targetnya menembus play-off. Kalau lolos syukur, misalnya tidak juga bukan masalah.
John Herdman adalah pria yang diamanatkan PSSI untuk Xi You Ji atau perjalanan ke barat ibarat epos klasik China: kera sakti Sun Go Kong bersama Biksu Tong (Xuanzang) dan kawan-kawannya.
Menurut Herdman, pondasi Timnas Indonesia telah dibangun Shin Tae Yong dan Patrick Kluivert. Dalam rumus kuli bangunan, cakar ayamnya sudah tertanam. Kini ia meneruskan bangunan bernama Garuda itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apakah prosesnya akan mudah? Tentu saja tidak. Malah akan rumit dan butuh ketelitian besar. Salah sedikit bisa merusak arsitektur yang sudah dirancang; estetikanya hilang dan berantakan.
Bahan bangunan dan senimannya akan menjadi ujung tombak. Ada bahan bangunan yang terpenuhi di dalam negeri, tetapi ada juga yang harus impor. Istilah sepak bolanya, pemain naturalisasi.
Herdman telah membocorkan, ia akan menambah pemain keturunan untuk ambisi 2030. Untuk sementara dua pemain. Posisinya winger. Namanya sudah ada, tetapi masih dirahasiakan.
Bagaimana dengan talenta di dalam negerinya? Apakah sudah terlihat di Timnas Indonesia U-15, U-17, U-19, dan U-20? Ada sejumlah nama, tetapi sepertinya belum ada yang istimewa.
Timnas Indonesia berhasil menjuara FIFA ASEAN Cup 2026 usai mengalahkan Thailand lewat adu penalti dengan skor 4-2(2-2) di Stadion Utama GBK, Jakarta. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim) |
Inilah tugas utama PSSI. Dari mencari, membina, dan membuat kawah candradimukanya. Alexander Zwier dan Simon Tahama, bersama ratusan atau bahkan ribuan pelatih, kudu berkolaborasi untuk ini.
Tugas Herdman hanya memetiknya saat dirasa sudah layak diorbitkan, baik itu melalui proses peram atau memang sudah matang dari pohonnya. Poles memoles sesuai kebutuhan jadi kebijakan Herdman.
Namun, sebelum ke 2030, mari kita lihat performa Timnas Indonesia di Piala Asia 2027. Apakah road map atau peta jalan PSSI, yakni menembus perempat final, bisa tercapai atau tidak.
Lintang kemukus mungkin hanya fiksi. Bisa juga mitos. Namun, semiotika juga ilmu yang diakui dialektikanya. Jadi, apakah John Herdman lintang kemukus Timnas Indonesia? Entah. Ini hanya apresiasi untuknya.
(ptr)
