Radja Nainggolan berterus terang awalnya hanya ingin membela Persija Jakarta atau Bali United di Indonesia dan bukan Bhayangkara FC.
Hal tersebut disampaikan Radja dalam wawancara dengan media Belanda. Pria 38 tahun ini mengisahkan awal mulanya berkenalan dengan sepak bola Indonesia dan akhirnya berkarier di sana.
"Saya berencana untuk berhenti bermain sepak bola [pada 2023 setelah membela SPAL di Serie B Italia]," kata Radja membagikan kisahnya, dilansir dari Nieuwsblad, Senin (12/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sampai mantan presiden Inter [Milan], yang sekarang menjabat sebagai kepala Federasi Sepak Bola Indonesia [Erick Thohir], mengundang saya untuk menjadi duta Piala Dunia U-17 [2023]."
Kurang lebih dua minggu Radja berada di Indonesia, berkeliling dari Jakarta, Bandung, Solo, dan Surabaya. Ia pun merasakan langsung bagaimana keramahan sosial masyarakat Indonesia.
"Saya menghabiskan dua minggu yang luar biasa di sana. Setelah itu, saya tidak tahu harus berbuat apa. Sampai saya mendapat telepon yang menanyakan apakah saya ingin bermain di sana."
"Saya melakukannya dengan senang hati, tetapi saya hanya ingin bermain di Jakarta [Persija] atau Bali [United]. Ternyata tim polisi negara, Bhayangkara FC, membutuhkan saya," ucapnya menceritakan.
Dari awalnya tidak tertarik, Radja merasa mendapatkan tantangan. Bahkan, bayaran yang didapatnya di Bhayangkara disebut lebih besar dari pada klub sebelumnya, SPAL.
"Jadi mereka menempatkan saya di sana [Bhayangkara FC] selama setengah tahun. Penghasilan saya lumayan 400.000 euro [setara Rp8 miliar] dalam enam bulan."
"Untuk biaya hidup di sana [Indonesia], saya dibayar lebih dari sebelumnya [di Italia]. Anda membayar dua euro [setara Rp40 ribu] untuk sepiring besar nasi goreng di sana," kata Radja.
Begitu Bhayangkara FC terdegradasi pada akhir musim, Radja hengkang. Ia membela klub kasta kedua Liga Belgia, Lokeren Temse. Musim ini Radja membela klub kasta kedua Belgia lainnya, Patro Eisden.
(abs/jun)