Vinicius Junior mulai hilang ketajaman di Real Madrid. (REUTERS/Isabel Infantes)
Jakarta, CNN Indonesia --
Posisi starter Vinicius Junior di Real Madrid kian mengambang setelah ketajamannya perlahan memudar. Kini, Jose Mourinho juga tak segan memarkir Vini di bangku cadangan atau menarik keluar di tengah pertandingan.
Puncaknya terjadi saat Real Madrid melawat ke markas AS Roma di Stadio Olimpico, Kamis (15/10) dini hari WIB. Sang winger ditarik keluar tanpa catatan gol maupun assist.
Vinicius bermain sekitar satu jam sebelum diganti, dan selama itu ia gagal menciptakan peluang maupun melepaskan tembakan ke gawang. Parahnya juga, tak ada satu pun dribel sukses yang tercipta dari kaki pemain berusia 26 tahun itu.
Salah satu gol Donyell Malen bahkan bermula dari kesalahan Vinicius. Ia kehilangan bola saat mencoba tipuan dengan tumit. Roma sontak menghukum kesalahan itu dengan gol. Tuan rumah unggul 3-1.
Vinicius meluapkan kekesalannya dengan membanting gelang keringat ke tanah saat meninggalkan lapangan. Ia dilaporkan sempat bertanya, "Mengapa dia [Mourinho] mengeluarkan saya?", sebelum ditenangkan staf pelatih.
Keputusan Mourinho ternyata berbuah manis. Arda Guler dan Endrick masuk sekitar menit ke-59, lalu tiga gol dalam tujuh menit terakhir lewat Carlos Espi, Endrick, dan Antonio Rudiger membuat Los Merengues mengunci kemenangan 4-3.
Usai laga, Mourinho mengaku tak menyukai gestur Vinicius tetapi memahami rasa frustrasinya. The Special One, julukan Mou, juga punya alasan untuk tenang. Sebab, Yan Diomande melepas assist untuk gol Kylian Mbappe saat Vinicius masih di lapangan.
Musim ini Vinicius baru mengemas satu gol dan tiga assist dalam sembilan laga. Di La Liga saja, 585 menit bermainnya hanya berbuah satu gol.
Satu-satunya gol itu lahir ke gawang Real Sociedad, padahal di laga yang sama ia sempat disoraki sebagian suporter pada babak pertama. Bernabeu tampak menyimpan rasa kecewa yang belum juga reda.
Siulan cemooh kembali terdengar saat Vinicius ditarik pada menit ke-87 laga kontra Inter Milan. Mourinho memeluknya di pinggir lapangan. Mou kemudian menyebut Vinicius yang sering jadi penentu musim lalu belum kembali, tetapi akan datang.
Lawan Villarreal, Mourinho mencadangkan Vinicius dan memasang Yan Diomande di sayap kiri. Vinicius masuk di babak kedua, golnya dianulir VAR, lalu ia diusir wasit karena menjambak rambut Nathan Saliba.
Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) menjatuhkan skorsing empat laga Liga Spanyol, sehingga Vinicius absen melawan Sevilla, Barcelona, Racing Santander, dan Valencia. Upaya Madrid meringankan hukuman tak membuahkan hasil. Vini baru bisa kembali dalam laga kontra Celta Vigo.
Mourinho sempat menyebut pencadangan lawan Villarreal sebagai cara melindungi Vinicius setelah laga kontra Atletico yang ia mulai sebagai starter. Di Roma, perlindungan itu berganti keputusan tegas menariknya saat Madrid sedang tertinggal.
Rentetan masalah ini memunculkan pertanyaan lama yang belum terjawab. Apakah Vinicius hanya sedang terpuruk, atau ketajamannya memang mulai menghilang sejak Mbappe datang?
Vinicius pernah berada di puncak ketajamannya bersama Karim Benzema pada 2021/2022, dengan 22 gol dan 16 assist di semua ajang. Opta bahkan mencatat keduanya saling memberi assist 18 kali musim itu.
Teori bahwa kepergian Benzema jadi biang masalah tak sepenuhnya cocok dengan data. Tanpa Benzema, Vinicius mencetak 24 gol dan 9 assist dari 39 laga pada 2023/2024, termasuk gol di final Liga Champions.
Persoalan mulai terasa saat Mbappe tiba pada 2024/2025. Megabintang asal Brasil itu hanya mengemas enam gol dan lima assist sejak awal 2025 saat itu. Walaupun pada akhirnya Vini menutup musim dengan catatan 22 gol dan 16 assist di semua ajang.
Vinicius dan Mbappe sama-sama paling nyaman bermain dari sisi kiri lini serang. Benturan posisi itu sejak awal dinilai berpotensi menjadi mimpi buruk taktik Los Galacticos.
Grafik Vinicius sempat naik-turun musim lalu, dengan tujuh gol dan delapan assist dari 33 laga di era Xabi Alonso. Ia bangkit di bawah Alvaro Arbeloa dan menutup musim dengan 22 gol serta 11 assist dari 59 pertandingan.
Karena itu, anjloknya performa musim ini terasa lebih mencolok. Satu gol dan tiga assist dalam sembilan laga jauh dari standar pemain yang baru menutup musim dengan 22 gol.
Madrid pun belum sepenuhnya meyakinkan di bawah Mourinho, dengan 18 gol per akhir September dan tujuh di antaranya lahir dari aksi Mbappe.
Di atas kertas, masa depan Vinicius sebenarnya aman. Ia meneken kontrak sampai Juni 2032. Gajinya pun mengalami eskalasi signifikan, sekitar 24-25 juta euro (Rp495-516 miliar) per musim, naik dari sekitar 17 juta euro (Rp351 miliar).
Ironisnya, performanya justru memble setelah tinta kontrak mengering. Lemparan pertanyaan dari jagat maya pun bermunculan. Apakah gaji besar otomatis berarti harus bermain, bahkan jadi starter?
Sebelum perpanjangan, Arsenal sempat dikabarkan memantau peluang merekrutnya. Kini ikatan hingga 2032 membuat Madrid punya kendali penuh atas nasib sang pemain.
Persaingan di lini depan pun makin ramai, dengan Diomande, Endrick, Espi, dan Guler yang sama-sama menunjukkan taring. Rodrygo masih belum bisa bermain, tetapi nama-nama baru itu membuat posisi Vinicius tak lagi otomatis aman.
El Clasico di Camp Nou, 25 Oktober waktu setempat, akan berlangsung tanpa Vinicius, lalu Leipzig dan AEK jadi panggung penebusan di Liga Champions. Masa depannya mungkin belum habis, tetapi posisi utamanya perlahan terkikis.
Posisi starter Vinicius Junior di Real Madrid kian mengambang setelah ketajamannya perlahan memudar. Kini, Jose Mourinho juga tak segan memarkir Vini di bangku cadangan atau menarik keluar di tengah pertandingan.
Puncaknya terjadi saat Real Madrid melawat ke markas AS Roma di Stadio Olimpico, Kamis (15/10) dini hari WIB. Sang winger ditarik keluar tanpa catatan gol maupun assist.
Vinicius bermain sekitar satu jam sebelum diganti, dan selama itu ia gagal menciptakan peluang maupun melepaskan tembakan ke gawang. Parahnya juga, tak ada satu pun dribel sukses yang tercipta dari kaki pemain berusia 26 tahun itu.
Salah satu gol Donyell Malen bahkan bermula dari kesalahan Vinicius. Ia kehilangan bola saat mencoba tipuan dengan tumit. Roma sontak menghukum kesalahan itu dengan gol. Tuan rumah unggul 3-1.
Vinicius meluapkan kekesalannya dengan membanting gelang keringat ke tanah saat meninggalkan lapangan. Ia dilaporkan sempat bertanya, "Mengapa dia [Mourinho] mengeluarkan saya?", sebelum ditenangkan staf pelatih.
Keputusan Mourinho ternyata berbuah manis. Arda Guler dan Endrick masuk sekitar menit ke-59, lalu tiga gol dalam tujuh menit terakhir lewat Carlos Espi, Endrick, dan Antonio Rudiger membuat Los Merengues mengunci kemenangan 4-3.
Usai laga, Mourinho mengaku tak menyukai gestur Vinicius tetapi memahami rasa frustrasinya. The Special One, julukan Mou, juga punya alasan untuk tenang. Sebab, Yan Diomande melepas assist untuk gol Kylian Mbappe saat Vinicius masih di lapangan.
Musim ini Vinicius baru mengemas satu gol dan tiga assist dalam sembilan laga. Di La Liga saja, 585 menit bermainnya hanya berbuah satu gol.
Satu-satunya gol itu lahir ke gawang Real Sociedad, padahal di laga yang sama ia sempat disoraki sebagian suporter pada babak pertama. Bernabeu tampak menyimpan rasa kecewa yang belum juga reda.
Siulan cemooh kembali terdengar saat Vinicius ditarik pada menit ke-87 laga kontra Inter Milan. Mourinho memeluknya di pinggir lapangan. Mou kemudian menyebut Vinicius yang sering jadi penentu musim lalu belum kembali, tetapi akan datang.
Lawan Villarreal, Mourinho mencadangkan Vinicius dan memasang Yan Diomande di sayap kiri. Vinicius masuk di babak kedua, golnya dianulir VAR, lalu ia diusir wasit karena menjambak rambut Nathan Saliba.
Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) menjatuhkan skorsing empat laga Liga Spanyol, sehingga Vinicius absen melawan Sevilla, Barcelona, Racing Santander, dan Valencia. Upaya Madrid meringankan hukuman tak membuahkan hasil. Vini baru bisa kembali dalam laga kontra Celta Vigo.
Mourinho sempat menyebut pencadangan lawan Villarreal sebagai cara melindungi Vinicius setelah laga kontra Atletico yang ia mulai sebagai starter. Di Roma, perlindungan itu berganti keputusan tegas menariknya saat Madrid sedang tertinggal.
Rentetan masalah ini memunculkan pertanyaan lama yang belum terjawab. Apakah Vinicius hanya sedang terpuruk, atau ketajamannya memang mulai menghilang sejak Mbappe datang?
Ketika Mbappe Datang, Posisi Vinicius Terancam Goyang
Kylian Mbappe menjadi protagonis utama di lini depan Real Madrid. (REUTERS/Alejandro Martinez Velez)
Vinicius pernah berada di puncak ketajamannya bersama Karim Benzema pada 2021/2022, dengan 22 gol dan 16 assist di semua ajang. Opta bahkan mencatat keduanya saling memberi assist 18 kali musim itu.
Teori bahwa kepergian Benzema jadi biang masalah tak sepenuhnya cocok dengan data. Tanpa Benzema, Vinicius mencetak 24 gol dan 9 assist dari 39 laga pada 2023/2024, termasuk gol di final Liga Champions.
Persoalan mulai terasa saat Mbappe tiba pada 2024/2025. Megabintang asal Brasil itu hanya mengemas enam gol dan lima assist sejak awal 2025 saat itu. Walaupun pada akhirnya Vini menutup musim dengan catatan 22 gol dan 16 assist di semua ajang.
Vinicius dan Mbappe sama-sama paling nyaman bermain dari sisi kiri lini serang. Benturan posisi itu sejak awal dinilai berpotensi menjadi mimpi buruk taktik Los Galacticos.
Grafik Vinicius sempat naik-turun musim lalu, dengan tujuh gol dan delapan assist dari 33 laga di era Xabi Alonso. Ia bangkit di bawah Alvaro Arbeloa dan menutup musim dengan 22 gol serta 11 assist dari 59 pertandingan.
Karena itu, anjloknya performa musim ini terasa lebih mencolok. Satu gol dan tiga assist dalam sembilan laga jauh dari standar pemain yang baru menutup musim dengan 22 gol.
Madrid pun belum sepenuhnya meyakinkan di bawah Mourinho, dengan 18 gol per akhir September dan tujuh di antaranya lahir dari aksi Mbappe.
Di atas kertas, masa depan Vinicius sebenarnya aman. Ia meneken kontrak sampai Juni 2032. Gajinya pun mengalami eskalasi signifikan, sekitar 24-25 juta euro (Rp495-516 miliar) per musim, naik dari sekitar 17 juta euro (Rp351 miliar).
Ironisnya, performanya justru memble setelah tinta kontrak mengering. Lemparan pertanyaan dari jagat maya pun bermunculan. Apakah gaji besar otomatis berarti harus bermain, bahkan jadi starter?
Sebelum perpanjangan, Arsenal sempat dikabarkan memantau peluang merekrutnya. Kini ikatan hingga 2032 membuat Madrid punya kendali penuh atas nasib sang pemain.
Persaingan di lini depan pun makin ramai, dengan Diomande, Endrick, Espi, dan Guler yang sama-sama menunjukkan taring. Rodrygo masih belum bisa bermain, tetapi nama-nama baru itu membuat posisi Vinicius tak lagi otomatis aman.
El Clasico di Camp Nou, 25 Oktober waktu setempat, akan berlangsung tanpa Vinicius, lalu Leipzig dan AEK jadi panggung penebusan di Liga Champions. Masa depannya mungkin belum habis, tetapi posisi utamanya perlahan terkikis.