Pelatih Lille Buka-bukaan Soal Kekalahan Saat Verdonk Bikin Sejarah
Pelatih Lille, Davide Ancelotti, menyoroti performa timnya setelah kalah 2-4 dari Galatasaray pada matchday ketiga Liga Champions, Rabu (21/10) malam waktu setempat.
Kekalahan di Stadion Pierre Mauroy itu menjadi kekalahan ketiga Lille secara beruntun di Liga Champions. Hasil itu terjadi saat Calvin Verdonk mencatat sejarah bersama klub Prancis tersebut sebagai orang Indonesia pertama yang bermain sebagai starter di Liga Champions.
Lille sebenarnya sempat unggul 2-1 berkat dua gol Soriba Diaoune sebelum babak pertama berakhir, namun mereka kehilangan kendali dan kemudian kebobolan tiga gol.
Ancelotti menilai Lille belum menunjukkan performa yang cukup untuk bersaing di Liga Champions. Ia meminta skuad Les Dogues segera berbenah agar peluang melangkah lebih jauh tidak semakin menipis.
"Menurut saya, apa yang kami lakukan di Liga Champions belum cukup. Jadi, kami harus segera mengubahnya jika ingin memiliki peluang. Saya pikir kami masih punya waktu, kami percaya, tetapi hari ini jelas terlihat bahwa kami harus melakukan sesuatu yang berbeda," ujar Ancelotti, dikutip dari Le Petit Lillois.
Ancelotti juga menyoroti kesalahan yang terus muncul pada momen-momen penting. Menurutnya Lille kembali gagal mengantisipasi situasi krusial, termasuk ketika menghadapi bola mati, seperti yang terjadi saat laga pertama melawan Real Betis.
"Kami kebobolan pada momen-momen yang sangat sulit, di awal pertandingan, akhir babak pertama, dan awal babak kedua. Ini bukan pertama kalinya. Kami harus memperbaikinya dengan cepat agar hal ini tidak menjadi kebiasaan," kata pelatih asal Italia itu.
Ancelotti menegaskan masalah Lille bukan karena level Liga Champions terlalu tinggi, namun kesalahan kecil yang dilakukan timnya bisa berakibat fatal ketika menghadapi lawan dengan kualitas individu dan tim seperti Galatasaray.
"Bukan berarti levelnya terlalu tinggi. Namun, di kompetisi ini, dengan pemain-pemain yang ada dan kesalahan yang kami lakukan, kami harus membayarnya dengan sangat mahal," ucap putra pelatih kenamaan Carlo Ancelotti itu.
Ancelotti kemudian menyoroti kegagalan Lille mempertahankan permainan kolektif setelah kebobolan dua gol pada babak kedua. Frustrasi membuat organisasi serangan dan disiplin tim menurun sehingga mereka kesulitan menciptakan peluang.
"Setelah kebobolan dua gol, kami tidak mampu tetap bermain sebagai sebuah tim. Kami harus terus bermain bersama sampai akhir, mencari peluang, dan tidak bermain secara individual," terangnya.
Dengan lima pertandingan tersisa di fase liga, Ancelotti meminta Lille segera mengumpulkan poin jika ingin menjaga peluang lolos. Ia menekankan pentingnya tetap kompetitif dan mengelola momen pertandingan dengan lebih baik.
"Kami harus tetap kompetitif sampai akhir dan tidak pernah menyerah. Kami harus tetap berada dalam pertandingan dan mengelola momen-momen dengan baik, karena di sini tidak ada ampun," beber Ancelotti.
(nam/nva)