Legenda Real Madrid Guti mengecam kemenangan Harry Kane di Ballon d'Or 2026. Ia bahkan menduga penghargaan tersebut 'settingan' atau sudah diatur.
Pemindahan lokasi seremoni dari Paris ke London dianggap sebagai indikator penguat dugaan skenario kemenangan Kane yang berasal dari Inggris.
Kane meraih Ballon d'Or 2026 setelah tampil impresif bersama Bayern Munchen sepanjang musim 2025/2026. Penyerang timnas Inggris itu mencetak 73 gol dalam 65 pertandingan dan menjadi pemain Inggris pertama yang memenangi penghargaan tersebut sejak Michael Owen pada 2001.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, kemenangan Kane memunculkan kecurigaan dari sejumlah pihak yang lebih menjagokan Kylian Mbappe dan Lamine Yamal. Guti menjadi salah satu sosok yang mempertanyakan hasil tersebut dalam acara sepak bola Spanyol, El Chiringuito.
Guti menyoroti keputusan penyelenggara memindahkan seremoni Ballon d'Or ke London untuk memperingati 70 tahun penghargaan tersebut.
Menurutnya, pemilihan lokasi itu terasa mencurigakan karena Kane yang berasal dari Inggris akhirnya keluar sebagai pemenang.
"Kebetulan sekali, untuk perayaan ulang tahun ke-70, mereka memindahkan seremoni ke London dan seseorang dari London yang menang. Sungguh kebetulan yang luar biasa bahwa mereka memindahkannya ke London dan pemenangnya justru berasal dari London, bukan?" ujar Guti pada acara tersebut.
Mantan pemain Real Madrid itu juga menyetujui komentar panelis lain yang menyebut hasil tersebut seperti sudah diatur.
Ia menilai ekspresi Kane saat namanya diumumkan sebagai pemenang menunjukkan bahwa sang striker tidak menyangka akan meraih penghargaan tersebut. Guti menduga Kane memperkirakan Mbappe atau Yamal akan finis di atasnya.
Yamal sendiri harus puas menerima penghargaan Young Talent of the Year untuk ketiga kalinya secara beruntun. Sementara itu, pemimpin redaksi France Football, Vincent Garcia, mengatakan persaingan antara Kane dan Mbappe berlangsung sangat ketat dengan selisih poin yang tipis.
Garcia menjelaskan bahwa Mbappe sempat memimpin penghitungan suara dalam waktu cukup lama sebelum Kane kembali bersaing dan akhirnya menang.
"Saya mengikuti hasilnya secara langsung selama bulan pemungutan suara berlangsung. Kylian memimpin perolehan suara dalam waktu yang cukup lama, tetapi Harry Kane kembali bersaing, dan pada akhirnya, hasilnya ditentukan oleh selisih poin yang sangat-sangat tipis," kata Garcia.
Meski muncul tudingan mengenai hasil pemungutan suara, belum ada bukti bahwa kemenangan Kane telah diatur. Kane sendiri tetap merayakan penghargaan tersebut sebelum kembali ke Munich untuk latihan bersama Bayern.