Fenomena drifting berbahaya inilah yang disebut 'hajwalah' atau 'tafheet', yang merupakan fenomena anak muda di belahan dunia Arab yang sedang mencari jati diri.
Pemuda Arab telah melakukan drifting sejak 1970-an dan berlatih serius bukan dari profesional di wilayah seperti Uni Emirat Arab. Otoritas lalu lintas dan polisi menjadikan ini kegiatan ilegal karena dilakukan di jalan publik dan semakin naiknya jumlah kecelakaan dan kematian akibat kegiatan ugal-ugalan ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hajwalah adalah olahraga gaya bebas, dan mereka yang memperlihatkan tidak adanya rasa takut maka mereka yang menang."
Ibarat melihat sebuah koreografer kecelakaan mobil, namun berharap mereka tidak pecah berkeping-keping jadi istilah yang disematkan atas hajwalah.
Risiko besar dalam setiap aksi dan besarnya gelontoran uang membuat hajwalah menjadi sebuah bursa taruhan besar di setiap balapnya dan membuatnya terlihat mudah sebagai hobi. Budaya negara-negara teluk sepertinya cocok, ditambah badai pasir yang sering terjadi membuat balap ini semakin dramatis dan tentunya diisi anak muda dengan gejolak yang khas.
"Ini nyaris sama di seluruh dunia saat remaja mencari kegiatan untuk memperlihatkan sejauh mana kejantanan mereka. Dan mereka (hajwalah) punya uang sangat banyak dan banyak jalan untuk menghabiskannya," kata Garritino.
"Orang menilai kami adalah hooligan, tapi banyak hooligan di mana-mana. Kami hooligan dengan uang yang banyak," kata drifter kepada Garritano. (pit)