Jangankan soal mobil listrik, Indonesia masih berkutat untuk meningkatkan standar kualitas bahan bakar menuju Euro 4. Di Asia Tenggara, Indonesia bersanding bersama Laos yang masih menggunakan Euro 2. Sedangkan negara lain, sudah berada di level Euro 5 dan Euro 6.
"Jangan kan listrik, aturan untuk Euro 4 saja belum keluar. Ini memang Indonesia tertinggal jauh," kata Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia Yohannes Nangoi saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Rabu (22/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Balada Mercy Tua Presiden Joko Widodo |
"Di Indonesia itu masih jauh. Thailand saat ini sangat gencar, peraturan diperdalam. Sedangkan di Indonesia, masih saja soal bahan bakar," ungkap Nangoi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Merek-merek di Indonesia itu kan bukan merek mobil kecil. Ada dari Jepang, Amerika, Eropa. Mereka kan punya mobil-mobil listrik yang telah teruji dan sudah dipasarkan. Kami pihak industri tinggal menunggu, dan pasti siap jika pemerintah memang mau."
Nangoi mengatakan, meski belum ada investor yang benar-benar tertarik membuka manufaktur dalam skala besar di Thailand, sinyal positif yang diberikan pemerintahan di sana memberikan dorongan industri otomotif untuk berani berinovasi.
Wakil Perdana Menteri Thailan Somkid Jatusripitak meyakini bahwa dalam lima tahun ke depan, industri ini akan menjadi sangat menjanjikan, terutama di tengah harga bahan bakar yang semakin tinggi serta kondisi masyarakat yang mengidamkan mobil hemat energi dan ramah lingkungan.
"Bagaimana dengan kita? Berpikirpun sepertinya belum," ujar Nangoi. (pit)