Angkot tua bertuliskan Kp. Melayu - Gandaria ini terlihat sepi penumpang, hanya ada satu anak sekolahan yang duduk di sana.
Selama hampir 30 tahun menjadi supir angkot di Jakarta, Hendri merasakan perubahan besar di profesinya. Sepinya kursi penumpang membuatnya memulai cerita kondisinya sebagai supir di era maraknya transportasi online.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan wajah yang pasrah, Hendri menyebut operasi transportasi online saat ini sulit untuk dihentikan. Pasalnya jumlah mereka yang terlalu besar, terlebih di kota besar seperti Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya masa mau ribut sama saudara sendiri (ojek online), sama-sama mencari makan," tuturnya.
Seiring berkembangnya teknologi, transportasi online pun ikut bertambah banyak, terlebih di kota-kota besar.
Pasalnya, penghasilan yang didapat supir konvensional ini tidaklah besar dan juga tak menentu. Dengan sistem mengejar setoran untuk membayar sewa kendaraan yang dipakainya untuk mengangkut penumpang.
Setidaknya sekitar Rp200 - 300 ribu perhari untuk Metromini, mereka harus membayarkan setoran kepada pemilik kendaraan yang disewanya. Dan sekitar 150 - 200 ribu yang harus dibayar supir Angkot untuk setoran ke pemiliknya.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan pendapatan para supir transportasi online. Mereka mendapat penghasilan dengan sistem potongan sebesar 10-20 persen setiap perjalanan yang ditempuhnya ke suatu tujuan. Belum lagi ditambah dengan adanya bonus dari perusahaan. Tidak ada istilah kejar setoran untuk memenuhi tuntutan pemilik bagi para supir transportasi online ini.
Keluhan lain datang dari seorang supir Metromini, dengan jurusan Blok M - Pasar Minggu, Udin. Udin masih bertahan menjalankan metromini tua berisiknya itu meski penumpang tak seramai dulu.
Bus tua dengan karat di beberapa bagian bodinya itu terus melaju meski kursi-kursinya hanya diisi dua orang bapak tua.
"Ya begitulah (dampak transportasi online), kenyataannya kelihatan banget lah ya," Udin, saat supir Mertomini yang ditemui saat sedang mengendarai Metromininya menuju Blok M, Jakarta.
Jika berbicara soal bagaimana ke depannya, Pria berusia sekitar 50-an ini mengaku, yang terpenting pemerintah punya solusi dari setiap kebijakan yang diputuskan.
"Yang penting diarahkanlah kemana gitu, gimana baiknya, agar pengangguran berkurang," lanjutnya. (eks/mel)