DDREM menggunakan kamera inframerah untuk memantau dan menganalisis gerakan wajah serta mata untuk memeriksa tanda- tanda kantuk dari pengemudi.
Sistem ini juga akan bekerja memberi bantuan ke pengemudi untuk menentukan apakah telah melayang keluar dari jalur, atau bahkan mobil telah membuat gerakan tak menentu sebagai penyebab kecelakaan lantaran pengemudi mengantuk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Honda Bakal Pamerkan Dua Mobil Pintar |
Kemampuan mobil untuk menyetir secara otonom memiliki beberapa tingkatan. Tingkatan ini dibedakan sampai lima level. Dan pada mode otonom level empat, kegiatan mengemudi dapat sepenuhnya diserahkan ke mobil untuk diantar ke tempat tujuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Implementasi sistem ini dianggap tidak serumit mobil otonom lain. Sebab, sistem ini bisa diimplementasikan dengan memanfaatkan perangkat keras yang sudah dipakai di kebanyakan kendaraan baru.
Oleh karenanya, teknologi ini dianggap lebih terjangkau dan tidak serumit sistem otonom yang saat ini tengah ramai dikembangkan. Pabrikan asal Korea Selatan ini mengatakan teknologi ini bisa siap pada 2022.
Tapi kelemahan teknologi ini adalah kemampuannya yang hanya bisa diimplementasikan untuk mengemudi otomatis dalam jarak dekat, kurang dari 1,6 meter.
Lihat juga:Honda Bakal Pamerkan Dua Mobil Pintar |
Menyetir dalam keadaan mengantuk, telah menyebabkan sedikitnya 7.000 kematian akibat kecelakaan di Amerika Serikat. Berdasarkan laporan Yayasan AAA untuk Keselamatan Lalu Lintas, jika di persentase lebih dari 20% orang tewas lantaran mengemudi saat mengantuk.
Teknologi ini rencananya akan dipamerkan di gelaran Consumer Electronic Show (CES) 2018 yang akan diselenggarakan di Las Vegas, Amerika Serikat. (eks)