Moeldoko terlihat serius mengembangkan kendaraan listrik tersebut demi segera terealisasi mobil listrik nasional karya anak bangsa. Selanjutnya sebagai bentuk apresiasi, Moeldoko membuat sebuah progam yang memberikan hak saham kepada karyawan yang berkontribusi terhadap bus listrik.
"Saya harapkan (bus listrik) nanti itu menjadi miliknya anak bangsa. Makanya saya akan share (bagikan) lima persen (saham) akan saya diberikan kepada anak Indonesia siapa pun yang bisa berkontribusi atas pengembangan mobil listrik ke depan. Mungkin bisa dari desain, lalu hal lain. Banyak yang bisa dikembangkan, dari suspensi, steering sistemnya dan lainnya. Lalu kelistrikan juga. Masih banyak yang diperlukan keterlibatan anak-anak kita ini," kata Moeldoko kepada CNNIndonesia.com.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kalau kami hitung-hitung berapa persen dari total lokal konten MAB, ya kurang lebih 60 persen lokal konten. Dalam pengembangan ke depan, kami belum bermitra tetapi brainstorming sudah mulai beberapa perusahaan asing mendekat ke kami. Di antaranya dari Jerman ya, mereka juga ingin mass produksinya di Indonesia. Di antaranya seperti pengembangan suspensi, steering system, brake system," jelas Moeldoko.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sekarang masih dua setengah jam ya (sekali pengisian). Tapi itu bisa jalan kurang lebih (sejauh) 250-300-an km. Ke depan harus lebih cepat (proses pengisian daya listrik)," tutup Moeldoko. (mik)