Jalan bebas hambatan Jakarta hingga Surabaya bakal menjadi pilihan para pemudik, sebab membuat perjalanan ke kampung menjadi lebih singkat. Dan dana yang dikeluarkan untuk menempuh perjalanan relatif terjangkau, dengan menggunakan tol tersebut kita cukup merogoh kocek sebesar Rp351.500,-.
Namun banyak hal yang harus kita waspadai ketika mengemudi di sepanjang jalan tol Jakarta hingga Surabaya. Karakter jalan tol itu belum banyak kita ketahui, artinya menuntut para pengemudi untuk berkendara dalam kecepatan yang konstan namun tetap lebih hati-hati.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Rifat ada tiga poin yang harus diperhatikan pengemudi selama mengemudi di sana. Berikut tiga tips dari Rifat saat mudik ke kampung lewat tol Jakarta - Surabaya.
Angin dari arah samping akan membuat mobil terasa goyang. (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi) |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau pengemudi tidak mengantisipasi terutama mobil yang melebihi kapasitas berbahaya. Bukan masalah reaksi pertama yang menyebabkan kecelakaan, reaksi kedua yang menyebabkan kecelakaan. Kena angin, mobil oleng. Lalu counter steering (potensi menyerempet mobil di sekitar)," ucap Rifat.
Untuk itu, Rifat menjelaskan pengemudi harus ekstra hati-hati berkendara di tol, terlebih ini sebagai tol fungsional. Jalan belum sepenuhnya rampung. Usahakan selain memastikan kendaraan yang kita kemudikan aman, mengemudi di tol butuh konsentrasi yang baik.
Pengemudi wajib menjaga kecepatan kendaraan. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa) |
Jangan terlalu percaya diri mengemudi di tol. Perhatikan kecepatan kendaraan. Mengemudi di jalan tol dengan kondisi jalan luas dan panjang bukan berarti hanya kita yang berada di sana.
Yang paling benar adalah ikuti batas kecepatan di jalan bebas hambatan. Jangan memacu kendaraan di jalan tol melebihi batas kecepatan.
"Masalahnya ini enggak ada menang, engga ada kalah. Kita bawa keluar itu tanggung jawab moral sangat berlipat ganda. Enggak ada reward yang lebih baik selain kita selamat sampai tujuan. Meski kencang yang pasti harus kontrol," ucap Rifat.
Pengemudi harus mengurangi barang bawaan yang tidak perlu dalam perjalanan mudik. (Biro Pers Setpres/ Laily Rachev dan Rusman) |
Sebaiknya pengemudi sadar betapa bahayanya mobil yang melebihi kapasitas. Mobil dengan bobot penumpang dan barang hingga melebihi kapasitas menyebabkan kerja rem tidak maksimal. Kondisi rem kian tak maksimal bekerja jika mobil bergerak dalam kecepatan tinggi.
Bila mobil di depan rem mendadak, secara teori mobil di belakang yang melebihi kapasitas akan mengalami masalah dan tidak bisa berhenti secepat mungkin. Maka dari itu perhitungkan barang bawaan dan penumpang di dalam mobil.
"Ketika load capacity-nya bertambah, breaking-nya berubah, cornering-nya berubah, handling-nya berubah, semuanya berubah, everything works so slow," ucapnya. (mik)
Angin dari arah samping akan membuat mobil terasa goyang. (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)
Pengemudi wajib menjaga kecepatan kendaraan. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
Pengemudi harus mengurangi barang bawaan yang tidak perlu dalam perjalanan mudik. (Biro Pers Setpres/ Laily Rachev dan Rusman)