Perusahaan asal Ungaran, Jawa Tengah ini butuh waktu lebih kurang 10 tahun sebelum mulai menjajaki pasar ekspor.
Direktur Laksana Iwan Arman mengatakan dalam kurun waktu yang tidak lama itu setidaknya Laksana telah mengekspor produksinya sebanyak 170 unit. Itu pun hanya untuk satu negara, yaitu Fiji.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Technical Head Manager Laksana Stefan Arman menjelaskan alasan banyak perusahaan di Fiji yang beralih ke pihaknya karena bus yang dikirim menggunakan chasis dan mesin merek Hino, Scania, dan Mercedes-Benz.
Namun dari ketiganya, Stefan menjelaskan saat ini permintaan pengiriman mulai mengerucut pada mesin dan chasis buatan Scania dan Hino. Bus yang diekspor umumnya berjenis single dnegan ukuran 12 meter dan biasa dipakai untuk kegiatan wisata.
"Hino sama Scania yang familiar di sana. After sales untuk dua merek itu gampang, kalau Mercedes agak sulit mungkin," imbuhnya.
Ekspansi Tujuan Ekspor
Tahun ini, Laksana berencana melakukan ekspansi negara tujuan ekspor. Selain tetap mengekspor produk ke Fiji, pada September mendatang perusahaan menjadikan Bangladesh sebagai tujuan berikutnya.
Iwan mengakui ada kesulitan lebih lantaran konfigurasi stir di Bangladesh ada di sisi kiri. Perusahaan pun harus mengirim langsung chasis dan mesin dari Bangladesh untuk dibuat di pabrik Laksana.
"Mesti ngirim chasisnya dari Bangladesh masuk ke Indonesia. Masuk ke Indonesia kan harus bayar. Kami baru minta fasilitas untuk bebas biaya masuk karena itu kan kita re-ekspor lagi. Ya ini dalam proses ngurus izinnya," jelas Iwan.
Lihat juga:Ponsel Pintar akan Gantikan Kunci Mobil |
Ia pun mengakui menambah negara tujuan ekspor selain Fiji tidak mudah dan membutuhkan waktu.
"Kadang untuk masuk begitu juga tidak semudah itu. Apa lagi kalau mereka di dalam negerinya punya industri yang bagus," ucapnya.
"Tapi kan biar bagaimana pun juga mereka (negara lain) kepingin melindungi industri dalam negerinya." (evn/evn)