Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan langkah tersebut akan dimanfaatkan sebagai masukkan dalam menerapkan kebijakan pengembangan kendaraan listrik, di mana pemerintah memiliki target 20 persen untuk produksi kendaraan emisi karbon rendah (low carbon emission vehicle/LCEV) pada 2025 dapat tercapai.
"Sebagai salah satu sektor andalan di roadmap Making Indonesia 4.0, otomotif nasional diharapkan menjadi basis produksi kendaraan bermotor baik internal combustion engine (ICE) maupun electrified vehicle (EV) untuk pasar domestik maupun ekspor," kata Airlangga di Jakarta, Rabu (4/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Riset teknologi mobil listrik ini pun dijadwalkan akan berlangsung dari sekarang hingga tahun depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada kesempatan yang sama, Presiden Direktur Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono menyatakan, pihaknya mendukung kegiatan riset dan studi bersama itu.
Menurut dia kerjasama antar keduanya diharapkan akan menjadi upaya dalam memahami secara lebih dan berpengaruh dalam pengembangan kendaraan listrik di Indonesia. Terlebih itu juga itu mengenai preferensi konsumen, baik dari sisi industrinya, rantai pasok serta kebutuhan infrastruktur pendukung.
"Kami memberikan dukungan berbentuk penyediaan alat berupa kendaraan, data logger, charger, dan asistensi lainnya yang dapat dipergunaan oleh para peneliti dari universitas-universitas di Indonesia tersebut," ungkapnya.
Selain itu Toyota juga membangun enam unit stasiun pengisian level dua (4 jam pengisian, 3.500 watt) serta menyediakan asistensi teknik dalam kegiatan Penelitian dan Studi Komprehensif Kendaraan Elektrifikasi.
Kendaraan tersebut sedianya akan dipelajari mengenai aspek teknikal seperti jarak tempuh, emisi, infrastruktur, dan kenyamanan pelanggan melalui pelacakan data dalam penggunaan sehari-hari di tiga kota besar Indonesia, yakni Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta selama periode tiga bulan.
Lalu tahap kedua, peneliti dari UNS, ITS dan Udayana juga akan melakukan rangkaian studi yang sama dengan tujuan agar data yang diperoleh lebih beragam dan komprehensif.
Nantinya, data-data yang terkumpul akan dianalisa dan disimpulkan untuk menjadi referensi bagi Kemenperin. Selain itu, penelitian juga akan mempelajari mengenai rantai pasok industri termasuk kebutuhan ketenagakerjaan.