CEO Garansindo Group Muhammad Al Abdullah mengatakan hingga saat ini kedua perusahaan masih dalam tahap pembahasan dan belum ada kata sepakat terkait kolaborasi.
"Sedang dalam tahap pembahasan (kolaborasi). Dan kami sudah bertemu beberapa waktu lalu," kata Abdullah kepada CNNIndonesia.com, Selasa (17/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dijelaskan Memet, pihak MAB dan GTI sangat optimistis jika keduanya resmi berkolaborasi di Indonesia, sebab mereka mengembangkan sebuah produk kendaraan masa depan yang juga didukung oleh pemerintah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama ini GTI terus mengembangkan sepeda motor listrik Gesits untuk kebutuhan berkendara masyarakat Indonesia di masa depan. Sementara MAB terus mengembangkan bus listrik untuk angkutan umum ramah lingkungan dalam negeri di mana uji coba pertama bus listrik dilakukan di Bandara Udara Soekarno-Hatta beberapa waktu lalu.
Lihat juga:Spesifikasi Lengkap Bus 'Hijau' Moeldoko |
Menanggapi keterbatasan pengembangan kendaraan listrik ini, dikatakan Memet tidak menutup kemungkinan kedua perusahaan berkomitmen mendirikan industri baterai kendaraan listrik yang segera terealisasi, karena ini yang dibutuhkan industri otomotif dalam negeri di masa depan.
"Paling tidak investasi baterai (kendaraan listrik) di dalam negeri," jelas Memet.
Diberitakan sebelumnya, pemerintah saat ini telah membuat skema tax holiday dalam Peraturan Menteri Keuangan No.35 tahun 2018.
Kini, aturan tersebut juga berlaku untuk industri baterai kendaraan bermotor listrik.
Sementara itu Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Harjanto sempat menyebut bila saat ini sudah ada beberapa investor yang menyatakan tertarik membangun pabrik baterai di dalam negeri.
Ketertarikan investor diyakini Harjanto efek dibuatnya rancangan insentif tax holiday atau pemberiam insentif dari pemerintah berupa pengurangan pajak. (mik)