Model kendaraan produksi TMMIN memiliki kandungan lokal hingga 94 persen. Angka itu menandakan sebesar 94 persen komponen kendaraan produksi TMMIN dibeli dari pemasok lokal tier 1.
Selain tingkat kandungan lokal, ada lagi takaran true localization yang menandakan tingkat kandungan lokal pada industri tier 1. Semakin tinggi, berarti produksi komponen tier 1 kebanyakan mengambil bahan baku lokal dari tier 2.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tadi saya sampaikan ke Presiden [hadir saat peresmian] tentang true localization, terutama untuk substitusi impor. Misalnya kerja sama dengan Krakatau Steel, Chandra Asri, Inalum, dan sebagainya. Dengan usaha-usaha tersebut diharapkan ada usaha untuk mengurangi impor, sehingga kita bisa menahan devisa," ucap Warih.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Warih menyampaikan, rupiah anjlok begitu dalam mempengaruhi industri komponen tier 2 dan tier 3. Pada level itu sebagian masih menggunakan material impor.
"Kita ada 140 rantai pasokan, kecil-kecil itu. Bagi tier 2 dan tier 3, material itu seperti fix cost. Berat sekali bagi mereka. Tough. Itu kewajiban kita sebagai salah satu industri otomotif membantu mereka kesulitannya apa. Meningkatkan produktivitas, atau meningkatkan industri hulu, itu harus kita kerja," ucap Warih.
Edward Otto Kanter, Wakil Presiden Direktur TMMIN, menjelaskan, kondisi pelemahan rupiah belum berpengaruh pada jangka pendek. Namun bila berlangsung terlalu lama, butuh respons penyesuaian.
Saat ini, jelas Edward, TMMIN juga berusaha mengatasi gejolak rupiah dengan efisiensi teknis operasional pabrik.
Menurut Edward, pada saatnya nanti total biaya produksi kendaraan TMMIN bakal naik jika rupiah tidak bisa melawan balik. Ujung-ujungnya harga jual produk pabrik ke Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) juga bisa terkoreksi.
"Saat ini kami tutupi pakai aktivitas, kami tahan lah," ujar Edward. (mik)