Direktur Pembinaan Keselamatan Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Mohamad Risal Wasal menyampaikan riset dilakukan untuk mengetahui seberapa besar keuntungan penggunaan ABS untuk motor berkapasitas kecil, khususnya buat menekan angka kecelakaan.
"Untuk mengetahui seberapa pentingnya ABS diterapkan. Kalau untuk 250 cc ke atas kan sudah pada gunakan ABS. Nah apa motor cc kecil sudah saatnya gunakan juga, itu jadi pertanyaan kami," kata Risal di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta akhir pekan lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sesuai kepanjangannya, ABS merupakan fitur yang berguna untuk mencegah rem terkunci saat tuas rem ditekan terlalu lama. Kondisi rem terkunci berbahaya buat berkendara motor yang membutuhkan keseimbangan sebab pengendara bisa kehilangan kendali dan terjatuh. Pada umumnya kerja ABS yang dikendalikan komputer akan memerintahkan kampas rem berulang menjepit cakram setidaknya 15 kali dalam satu detik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Risal menjelaskan pihaknya juga akan berkoordinasi ke Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) mengenai kewajiban ABS ini.
Risal menyoroti pendapat umum yang mengatakan ABS merupakan fitur mahal. Salah satu kekhawatirannya, bila ABS merupakan mandatori produsen malah bakal meninggikan harga jual.
"Karena ABS berkaitan dengan masalah harga. ABS harganya mahal, takutnya motor yang harga murah malah mahal nanti," ucapnya.
Bila kajian sudah selesai, Risal mengatakan tidak ingin terburu-buru membuat regulasi. Misalnya saja ABS memang berpotensi besar menekan angka kecelakaan, langkah pertama yang dilakukan yaitu mengimbau kepada semua produsen motor untuk mulai menggunakan ABS pada setiap produk.
Peraturan sejenis diketahui juga akan diterapkan di Taiwan dan Australia pada 2019. Sedangkan China mulai mewajibkan ABS untuk motor baru dengan kapasitas mesin di atas 250 cc pada awal Juli 2019. (ryh/fea)