Hal utama yang mesti dipahami bahwa AMMDes bukan mobil penumpang pada umumnya dan tidak bisa diuji tipe sesuai ketentuan yang berlaku di dalam negeri. AMMDes merupakan kendaraan pedesaan yang dijual tanpa pelat nomor, artinya peruntukannya bukan untuk melintasi jalan raya.
"Saya sendiri belum mendapat arahan bicara mobnas. Kalau kita bicara mobnas ini kan ada insentif yang mengikuti, khusus. Setahu saya pengertian mobnas di sini adalah kaya mobil-mobil LCGC (Low Cost Green Car), makanya definisi mobnas itu apa? kalau mobnas itu diartikan adalah mobil dengan lokal konten tinggi, itu LCGC," ucap Herjanto.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi gini, kalau konsep pengembangannya diskriminatif memang melanggar aturan WTO. Makanya kami tidak pernah, di manapun bukan hanya otomotif, pola pengembangannya kan harus 'most favorite nation', kan kita sudah menjadi anggota perdagangan dunia. Artinya kita mengembangkan sektor manapun, tidak hanya otomotif, tidak boleh ada proses diskriminatif," ucap Harjanto.
"Kalau ada prinsip-prinsip diskriminatif akan dibawa ke panel WTO dan faktanya kita pernah kalah," katanya lagi.
Lihat juga:'Wong Deso' Bisa Cicil Kendaraan Perdesaan |
Pemerintah dikatakan mengembangkan kesanggupan industri komponen seperti itu untuk mengembangkan merek baru seperti AMMDes.
"Bukan (AMMDes bukan mobnas). Kita kan mengembangkan merek lokal. Kalau mobnas itu kan, kalau dibilang mobnas itu seakan-akan ada intervensi khusus di situ," ucap Harjanto.
Gelar mobnas yang kerap diasosiasikan untuk LCGC dikatakan Harjanto karena pendekatannya konten lokal tinggi dan kontribusinya pada negara. Kontribusi itu dikatakan dari hal menekan emisi, mengurangi penggunaan bahan bakar, dan penerimaan pajak. (fea/mik)