Bus ramah lingkungan itu masih menghadapi masalah pada bagian steker bus MAB yang masih menggunakan standar steker China GB/T. Penggunaan steker di Indonesia mengikuti Jepang dan Eropa memakai DC (CCS) dan DC CHAdeMO sesuai standar Badan Standarisasi Nasional (BSN). BSN berpedoman pada International Electrotechnical Commission atau disingkat IEC.
Peneliti Madya Standarisasi BSN Benjamin B. Louhenapessy mengatakan bahwa Indonesia sulit menggunakan standar steker dari China. BSN sendiri diketahui mendapat mandat untuk menyusun dan menetapkan standar terkait fasilitas stasiun pengisian listrik umum (SPLU) di Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Teropong Kendaraan Listrik di Indonesia |
"Kalau memang mereka (GB/T) merefer pada international standar, it's ok, karena kami Indonesia sendiri merefer-nya pada standar internasional," kata Benjamin di Serpong, Tangerang, kemarin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Target ESDM Bangun 10 Ribu SPLU pada 2050 |
"Itu karena (sebagian komponen) dari China. Ya memang ke depannya kami harus menetapkan standar nasional Indonesia (SNI). Jadi mereka (MAB) harus mengikuti regulasi yang di dalamnya ada SNI," kata Benjamin.
"MAB ingin juga standarnya diperhatikan. Masalahnya bus dia juga sudah banyak, makanya kalau memang dia mau internal (buat SPLU) silakan, tapi dia (MAB) ingin tiap kota-provinsi ada yang pemerintah bangun. Tapi pemerintah belum yakin sama yang namanya 'Made in China'," tutup Ganesha. (ryh/fea)