Deputy Director Sales Operations & Product Management Mercedes-Benz Distribution Indonesia (MBDI) Kariyanto Hardjosoemarto mengatakan pertanyaan calon konsumen kepada tenaga penjualan adalah seberapa efisien konsumsi BBM mobil Mercedes-Benz.
"Di mana itu pertanyaan standar dari konsumen. Kaya ini satu liter bisa berapa kilo," kata Kariyanto di Senayan, Jakarta, Kamis (7/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Kari ketika tidak terjadi kecocokan tidak jarang calon pembeli beralih ke model lain dengan alasan mobil 'rakus' bahan bakar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Atas dasar itu merek asal Jerman tersebut mengembangkan produk dengan performa tinggi, tanpa menghilangkan efisiensi bahan bakar. Menurut Kari hal tersebut bisa dicapai melalui teknologi EQ Boost.
Teknologi ini diklaim membuat mesin empat silinder performanya seperti mesin enam silinder. Namun soal efisiensi BBM, 'pakemnya' tetap pada mobil dengan mesin empat silinder.
Misalnya mesin E 350 EQ Boost mampu menghasilkan 299 tenaga kuda dan 400 Nm dari kapasitas 1.991 cc. Dengan EQ Boost ada penambahan tenaga sebesar 13,41 tenaga kuda dan torsi 150 Nm. Konsumsi bahan bakar dapat mencapai hingga 6,9-6,7 liter per 100 km dengan kadar emisi CO2 156-153 gram per km.
"Tentunya semakin irit kendaraan dari penawaran pasti mereka bakal lebih senang juga," katanya.
Kari mengamini bahwa pihaknya kini tengah membentuk pasar baru untuk mobil premium dengan menghadirkan line up kendaraan beragam warna.
Diketahui, sebelumnya Mercedes-Benz hanya menjajakan produk dengan warna dasar seperti hitam, silver dan putih. Sementara kini tumbuh keinginan warna baru seperti hijau dan merah.
"Padahal kalau di Eropa banyak pilihan warna lain. Market kalau kami bentuk ternyata banyak peminatnya. Misalnya pas kami bawa GLA hijau malah rebutan orang," ungkapnya.
Dengan menghadirkan pilihan warna lebih cerah, peminat merek Mercy juga dirasa lebih berwarna mulai dari kalangan anak muda. (ryh/mik)