Pada 2018, berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo), ekspor mobil CBU sejumlah 264.553 unit. Angka tersebut merupakan rekor sepanjang sejarah ekspor mobil CBU dari Indonesia.
"Tahun kemarin, ekspor mobil CBU sudah lebih dari 264 ribu unit, dan yang bentuk CKD [Completely Knock Down] sekitar 82 ribu unit, sehingga total melampaui 346 ribu unit dengan nilai US$4 miliar dan tambahan dari ekspor komponen otomotif senilai US$2,6 miliar," ungkap Airlangga di keterangan resminya, Rabu (13/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Jokowi Sederhanakan Aturan Ekspor Mobil CBU |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di dalam aturan baru juga menetapkan koreksi dokumen bisa dilakukan tiga hari sejak keberangkatan kapal pengangkut mobil CBU. Diharapkan penumpukan unit CBU di gudang penyimpanan bisa dikurangi.
Gaikindo menyambut baik soal relaksasi proses ekspor. Menurut Ketua 1 Gaikindo Jongkie D. Sugiarto, apapun usaha pemerintah meningkatkan ekspor bakal diapresiasi.
"Kita sederhana saja, semua upaya untuk meningkatkan ekspor kami menyambut baik. Kita kan sama-sama mau meningkatkan ekspor, apapun upaya pemerintah kami dukung," ucap Jongkie saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (14/2).
Menurut studi produsen mobil terbesar di Indonesia, Astra Daihatsu Motor, level stok unit CBU di gudang penyimpanan bisa turun hingga 36 persen, dari 1.900 unit per bulan menjadi 1.200 unit per bulan. Atas penurunan itu terdapat penghematan Rp191 miliar berdasarkan data ekspor 2018.
Jongkie mengingatkan kebijakan dari pemerintah yang membantu ekspor CBU merupakan hal positif. Namun semangat itu juga harus dibarengi pendekatan ke prinsipal produsen mobil di dalam negeri.
"Ekspor itu dikendailkan oleh para prinsipal, rata-rata kantor pusatnya ada di Jepang rata-rata. Pihak Indonesia juga harus mati-matian ke sana," ucap Jongkie. (fea)