Seiring dengan perkembangan industri otomotif, banyak konsumen yang menginginkan kendaraan yang ramah dengan isi kantong. Sebagian besar produsen otomotif menjawabnya dengan memperbaiki sektor jantung penggerak guna menyesuaikan keinginan konsumen.
Selain memperbaiki mesin penggerak, tak sedikit produsen menyematkan teknologi 'penghemat BBM', di antaranya 'start stop engine system' atau teknologi otomatis mematikan dan menyalakan mesin pada saat kendaraan berada di idling atau tidak bergerak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika pengemudi mengangkat kakinya dari pedal rem, maka mesin kembali menyala. Untuk kembali menyalakan mesin umumnya menggunakan motor starter (dinamo) dan alternator tambahan.
Jauh sebelum VW, merek otomotif Jepang, Toyota sudah memanfaatkan teknologi tersebut pada Crown produksi 1974. Saat itu Toyota mengklaim bisa menghemat bahan bakar hingga 10 persen.
Oleh Mazda, teknologi tersebut dijuluki Smart Idle Stop System (SISS) yang diklaim menyalakan mesin dengan waktu 0,35 detik.
Teknologi cerdas itu juga dilirik perusahaan otomotif Amerika Serikat, Ford, yang memulai menggunakan sistem tersebut pada sport utility vehicle (SUV) produksi 2012. Ford pun mendapat pujian dari banyak pihak karena berkontribusi menghasilkan mobil-mobil ramah lingkungan.
Di Indonesia, Honda dan Yamaha menjadi produsen roda dua yang menerapkan sistem itu pada motornya.
Pada Honda namanya disebut Idling Stop System (ISS). Sistem itu tersimpan pada PCX dan Vario 150. Selanjutnya Yamaha nama sistem itu start stop system (SSS). Motor Yamaha yang sudah menggunakan SSS, antaranya keluarga skuter Maxi Yamaha. (ryh/mik)