Menanggapi hal tersebut, Presiden Direktur Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono mengatakan pihaknya siap berkompetisi di kategori tersebut.
Setelah perluasan B20 atau Biodiesel 20, industri otomotif Indonesia sedang menghadapi program mandatori campuran Biodiesel sampai 30 persen untuk bahan bakar (B30) yang akan diumumkan pada akhir tahun ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang kami (sudah kompatibel) B20, kami sekarang mempersiapkan B30 akan kami siapkan terus," ucap Warih saat ditemui wartawan di Jakarta, Selasa (19/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Warih tidak menutup kemungkinan pihaknya ikut bermain pada dua kendaraan jenis itu. Apalagi untuk E100 yang juga masuk program flexy engine. Menurutnya hal tersebut terbilang 'mudah' berdasarkan pengalaman TMMIN memproduksi mesin berbahan bakar etanol 100 persen yang diekspor ke Amerika Selatan.
"Jadi kalau infrastruktur siap, untuk etanol kami siap nih. Step by step lah. Kami juga lagi perjuangin banget B30," ungkapnya.
Ia juga mengatakan bukan hal sulit merancang produk dengan spesifikasi mesin E100 atau B100. Dijelaskan Warih yang terpenting di sini menentukan harga jual yang 'pas' dengan kantong konsumen di Tanah Air.
"Jadi kalau ganti ke arah yang lebih biodiesel dan high etanol, kalau pricing engga pas ya gimana konsumen. Dan semua harus kami jaga. Semua stake holder harus mikirin itu. Bagaimana konsumen nanti saat terima energi terbaru, B20 udah berikutnya bagaimana," tutup Warih. (ryh/mik)