Marketing & After Sales Service Director HPM Jonfis Fandy menjelaskan penyesuaian produksi mobil-mobil Honda tersebut untuk menjaga tingginya permintaan Brio di domestik dan mancanegara.
Seremoni ekspor Honda Brio produksi pabrik Karawang, Jawa Barat dilakukan hari ini Selasa (26/3). Dalam tahap pertama nilai pengapalan mencapai Rp1 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi ya tergantung permintaan konsumen. Ya kalau permintaan kurang kami harus ngatur stoknya supaya efisien," ucap Jonfis kemudian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu wholesales (penjualan dari pabrik ke dealer) CR-V selama Januari dan Februari 2019 terdata sebanyak 534 unit dan BR-V 155 unit. Sedangkan Brio hanya untuk domestik kontribusinya mencapai 12.477 unit.
Jonfis menolak menjabarkan target ekspor Brio untuk tahun ini. Pengapalan perdana Brio sekaligus menandai kembalinya Honda melakukan kegiatan ekspor mobil secara utuh yang sebelumnya aktif selama 2011-2014.
Menurut Jonfis dua varian Brio, Satya dan RS yang diekspor tidak punya perbedaan spesifikasi dengan model yang dijual di Indonesia. Semua nyaris sama, terkecuali posisi kemudi yang berpindah ke sebelah kiri.
"Secara general sama (antara Brio Indonesia dengan versi ekspor), ada fitur berbeda mungkin. Mungkin juga jok dia warna biru kita hitam," ucapnya.
Brio Satya menjadi mobil murah ramah lingkungan (Low Cost Green Car/ LCGC/KBH2) ketiga setelah Daihatsu Ayla dan Toyota Agya yang diekspor ke sejumlah negara di ASEAN. Menurut Jonfis Honda menghilangkan nama Satya untuk pasar ekpor.
"Karena di saja tidak ada (aturan) LCGC, jadi namanya hanya Brio," tutup Jonfis. (ryh/mik)