Arab Saudi telah memulai studi kelayakan sejak 2017 untuk pembangunan pabrik di Arab Saudi. Rencana ini merupakan bagian dari rencana besar Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk menciptakan banyak lapangan kerja bagi pemuda Saudi
Mundurnya Toyota sebagai investor di Arab Saudi diungkap empat orang sumber Toyota, mengutip Reuters, Senin (23/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu membuat kesepakatan dengan Toyota pada 2020 untuk pembuatan pabrik mobil menjadi target utama dalam strategi industri nasional Arab Saudi dalam upaya mengurangi ketergantungan pada minyak, dengan mencoba membangun industri otomotif.
Pihak Toyota yang dimintai tanggapan seputar diskusi internal bersama Arab Saudi sampai saat ini enggan berkomentar. Begitu juga dengan Kementerian energi, industri, dan sumber daya mineral Arab Saudi yang memilih diam terkait kondisi terbaru tersebut.
Sedangkan di bawah kesepakatan yang ditandatangani Toyota pada Maret 2017, perusahaan itu sepakat melakukan studi kelayakan untuk proyek industri dengan membuat kendaraan dan suku cadang mobil.
Dua sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan Toyota membuat kesimpulan setelah melangsungkan penelitian dan negosiasi. Hasilnya bahwa Arab Saudi perlu memberikan subsidi besar agar proyek itu dapat berjalan.
"Mereka menemukan bahwa biaya produksi akan sama dengan negara lain hanya jika ada insentif pemerintah 50 persen. Meski begitu, mereka tidak yakin itu akan menguntungkan," ucap seorang sumber. (ryh/mik)