Benelli merupakan merek asal Italia, namun statusnya dimiliki perusahaan asal China, Zhejiang Qianjiang Motorcycle Group Co. (Qianjiang Motorcycles) yang merupakan bagian dari grup Geely (Zhejiang Geely Holding Group Co., Ltd).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Oktober 2018 petinggi Benelli sempat mengunjungi Bali untuk meluncurkan secara global tiga produk baru. Pada kunjungan itu terungkap rencana investasi US$50 juta yang akan digelontorkan ke Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peningkatan kapasitas produksi itu pernah disebut bukan cuma untuk memenuhi kebutuhan domestik tetapi juga ekspor.
Steven memaparkan prinsipal telah menimang berbagai kemungkinan jika berinvestasi di Indonesia. Namun dijelaskan, karena regulasi perpajakan, khususnya Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), investasi urung juga dilakukan.
"Mereka lihat ada plus minus di masalah regulasi, perpajakan. Kalau melihat di negara tetangga perpajakan lebih fleksibel. Sama PPnBM, di kita ada, di negara lain tidak ada," ucap Steven.
Seperti diketahui, PPnBM buat sepeda motor di Indonesia mulai dikenakan untuk kapasitas mesin di atas 250 cc. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 64/2014, motor berkapasitas mesin 250 cc - 500 cc kena PPnBM sebesar 60 persen. Sedangkan di atas 500 cc dibebani PPnBM 125 persen.
Sementara itu dipahami Benelli punya banyak model motor di atas 250 cc yang pasarnya mengecil di dalam negeri. Tanpa pegangan kuat di pasar domestik, kemungkinan berat buat prinsipal memproduksi lokal dengan orientasi ekspor. Meski begitu, Steven tidak menjelaskan detail terkait hal ini.
Komponen Lokal
Walau kepastian investasi menjauh, Steven mengatakan Benelli Indonesia tetap akan melebarkan sayap menggunakan fasilitas yang ada. Produksi tetap akan digenjot menyesuaikan permintaan pasar.
Kata Steven tingkat kandungan lokal dalam negeri (TKDN) sepeda motor Benelli di Indonesia juga masih sangat kecil.
"Bicara lokal konten masih kecil, di bawah 10 persen," kata Steven. (ryh/fea)