Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Putu Juli Ardika mengatakan kandungan lokal anjlok karena perakitan AMMDes memanfaatkan komponen impor mesin dan transmisi.
"Mesin saat ini didatangkan dari India, sementara transmisi dari Taiwan," kata Putu di kantornya kawasan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Senin (5/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
AMMDes kini diproduksi Kreasi Mandiri Wintor Indonesia (KMWI) yang merupakan anak usaha Astra International. Alat angkut itu diracik di pabrik KMWI di Citereup, Bogor, Jawa Barat dengan kapasitas 3.000 unit per tahun. Sedangkan skala ekonomis menurut Putu harus mencapai 10 ribu per tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alasan lain, tutur Putu, dari pengujian mesin lama AMMDes hanya mampu mengakomodasi kebutuhan di jalan off-road. Sedangkan penggunaan sebenarnya berpotensi sebagai pembantu distribusi logistik yang kemungkinan dipakai di jalan aspal.
"Itu low speed (kecepatan rendah) itu benar benar arahkan ke perdesaan yang off-road, ternyata permintaan adalah ini enggak bisa hanya di off-road saja," ucapnya.
Lihat juga:Kemenperin Kaji AMMDes Versi Listrik |
Menurut KMWI kemampuan alat angkut ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat tergantung dari alat yang 'digendong'. Adapun kemampuan AMMDes bisa menjadi penjernih air, ambulan, penyosoh beras, pompa irigasi, generator listrik, pembuat ice flake, hingga membantu petani mengolah kopi.
Infografis Data Diri Kendaraan Pak Tani. (CNN Indonesia/Timothy Loen) |
