"Ya, baru lapor tadi pagi sama direktur saya, jadi bahwa dia setop operasi di Indonesia. Kan sebenarnya tahun 2015 dia produksinya sudah berhenti sekarang dia ya karena pangsa pasar terlalu kecil, mungkin seperti itu," kata Harjanto saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (28/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama Januari-Agustus penjualan produk Chevrolet yang terdiri dari Spark, Trax, Trailblazer, dan Colorado hanya 1.159 unit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya pikir ini murni bisnis karena mereka jualannya kecil sekali," katanya lagi.
GM merupakan salah satu prinsipal SGMW Motor Indonesia, selain SAIC Motor dan Liuzhou Wuling Motors Co Ltd. Pada September lalu SGMW Motor Indonesia mengumumkan mengekspor generasi baru Chevrolet Captiva Thailand dan Brunei Darussalam, namun produk itu dipastikan tidak dijual di dalam negeri.
Pengetatan Impor
Harjanto juga menjelaskan keputusan GM pamit dari Indonesia tidak berkaitan dengan pengetatan produk impor yang dilakukan Kemenperin. Produk Chevrolet yang dijual di dalam negeri seluruhnya merupakan impor dari Thailand dan Korea Selatan.
"Saya tidak pernah tahan mereka impor," ucap Harjanto.
"Enggaklah. Kalau kompetitif bukan karena masalah ekspor impor, kalau itu kan, di sini kan importir kan banyak, kalau memang iya, kalau produknya diminati masyarakat, ya tetap bertahan," ungkapnya.
"Di Indonesia, kami tidak memiliki segmen pasar otomotif yang dapat memberikan keuntungan berkesinambungan. Faktor-faktor ini juga membuat kegiatan-kegiatan operasional kami menjadi semakin terpengaruh oleh faktor-faktor yang lebih luas di Indonesia, seperti pelemahan harga komoditas dan tekanan mata uang asing," kata Hector Villarreal, President GM Asia Tenggara. (fea)