Geliat Toyota memproduksi mobil ramah lingkungan di Indonesia kian terlihat setelah Peraturan Pemerintah (PM) Nomor 73 Tahun 2019 dan resmi diundangkan pada 16 Oktober 2019.
"Ya itu pemikiran kami bahwa industrinya harus disusun rencananya. Kalau kami tidak ikut itu kita engga bisa ekspor," kata Presdir TMMIN Warih Andang Tjahjono di Sapporo, Hokkaido, Jepang, pekan lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lah itu," ucap Warih ketika mendapati pertanyaan soal lokasi produksi mobil hybrid di Karawang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fokus utama adalah baterai sebagai penyimpan daya dan jantung penggerak yang dinamakan motor listrik, sementara memproduksi rangka, pelat bodi mesin di Indonesia sudah berpengalaman sejauh ini. Dengan membangun supply chain mobil hybrid di dalam negeri, praktis bisa menurunkan harganya untuk konsumen dalam negeri.
"Atasnya kan sama (bodi dan segala macam) ya kan sama. Powertrain belum. Pasti ada investasi [untuk membangun supply chain]," ucap Warih.
Toyota Indonesia akan mendukung program pemerintah yang menargetkan pada 2025 sebanyak 20 persen mobil ramah lingkungan terjual di Indonesia.
Sejauh ini Toyota masih belum buka suara terkait produk hybrid pertama yang akan diproduksi di Tanah Air, sebelum konsumen di Indonesia benar-benar menikmati mobil bertenaga listrik.
Dijelaskan Warih, untuk keberhasilan di segmen mobil ramah lingkungan, pihak Toyota akan lebih dahulu 'menyetrum' model yang paling digemari di Indonesia.
Di Indonesia, model paling digemari adalah MPV (Multi Purpose Vehicle), bahkan MPV sumbang lebih dari 50 persen penjualan nasional. Ini sejalan dengan kemampuan pabrik TMMIN di Karawang tercatat memproduksi Innova dan Sienta.
"Ya yang paling diterima masyarakat Indonesia dong. Artinya berharap konsumen akan terima. Konsumen terima bukan hanya harga toh. Pelayanan, fun-to-drive, dan garansi," tutup Warih. (mik)