Menurut Pimpinan Proyek Area 1 PT Jasamarga Prajudi, desain naik turun itu telah memenuhi persyaratan dalam pembuatan jalan tol.
Prajudi menjelaskan kontur naik-turun di beberapa bagian tidak ada unsur kesengajaan atau kesalahan struktur. Kondisi bergelombang karena jalan tol harus mengikuti kondisi di bawahnya seperti ada jembatan penyeberangan (JPO) dan jembatan untuk kendaraan melintas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepanjang tol Japek II sudah dilapisi aspal dan ada bahu jalan untuk parkir mobil yang menghadapi bermasalah. Namun, pantauan saya kualitas aspal tidak seluruhnya mulus, ada beberapa bagian jalan yang bumpy atau bergelombang.
Terlepas dari itu, suara ban yang menyentuh aspal tidak terlalu bising sampai kabin mobil ketimbang jalan tol yang cuma beton.
Begitu mencapai kecepatan 80 km per jam, guncangan semakin terasa sampai kabin mobil. Kondisi ini sangat mengganggu perjalanan, dan bayangkan jika kita harus melahap jarak 100 kilometer (km) perjalanan, beruntung tol Japek II tak sampai 30 km.
Keluhan lain ada pada penyambungan dua sisi jembatan atau expansion joint. Meski pun bagian penghubung dilapisi aspal, namun itu tidak bisa mengurangi guncangan sampai dalam kabin. Dan ini dirasakan di setiap penghubung jalal tol Japek II.
[Gambas:Video CNN]
Sepanjang perjalanan rambu-rambu lalu lintas mulai batas kecepatan cukup menuntun para pengendara mobil. Kondisinya cukup jelas dan mudah terlihat pengendara.
Menariknya tol ini sudah dilengkapi 113 unit CCTV untuk mengawasi pengemudi yang nakal. CCTV ini belum digunakan untuk sistem tilang elektronik. Meski begitu pengendara harus tetap tertib lalu lintas.
Mobil akhirnya keluar dari tol Japek di KM 48 sekitar 30 menit perjalanan dengan kecepatan antara 60-80 km per jam. (jnp/mik)