Presiden Direktur SIS divisi roda empat Seiji Itayama mengatakan merakit lokal Ignis bukan hal menguntungkan untuk masa depan perusahaan SIS dan prinsipal Suzuki.
"Kami mau (lokalisasi) karena itu sesuai dengan arahan pemerintah. Terus itu bisa berkontribusi menciptakan lapangan kerja banyak. Tapi kami harus pikirkan investasi, cocok atau tidak. Ini sangat penting. Kami sudah studi," kata Itayama di kawasan Jakarta Selatan pada pekan lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dony mengatakan permintaan Ignis pada tahun ini bisa dikatakan lenyap 50 persen dibanding periode tahun sebelumnya. Penjualan city car Ignis bisa tembus 1.500 unit per bulan, dan terkoreksi menjadi 800 unit.
"Jadi karena fokus jualan berubah, jumlah penjualan berubah. Dari 1.500 unit jadi 800an unit. Kalau 800 unit sebulan agak susah buat kami (lokalisasi Ignis)," ucap Dony yang enggan membeberkan rencana perusahaan hingga 'menumbalkan' Ignis.
Lihat juga:Bedah Spesifikasi Suzuki Jimny 4WD |
Data Gaikindo tahun ini bahkan lebih kecil dari jumlah yang disebutkan Dony, yang berarti rata-rata penjualan per bulan Ignis pada 10 bulan 2019 hanya 400an unit.
"Tapi penjualan Ignis turun ini kami lihat bukan karena kuota impor. Tapi karena fokus perusahaan sekarang, kuota impor tidak pengaruh signifikan ke penjualan (Ignis)," ucap Dony meyakini.
Sedangkan Itayama menambahkan salah satu penyebab penjualan Ignis melorot juga dikarenakan ketatnya persaingan city car di Indonesia. Di sisi lain Itayama memastikan pihaknya tidak akan menyetop penjualan Ignis di Indonesia, meski penjualannya terus merosot.
Di Indonesia Ignis punya pesaing yaitu Honda Brio RS, Daihatsu Sirion, hingga Nissan March.
"Jadi tidak ada rencana kami menyudahi Ignis. Ignis akan terus," tutup Itayama.
[Gambas:Video CNN] (ryh/mik)