Cara kerja sistem rem hidraulika (ilmu gerakan air) yang banyak digunakan pada kendaraan saat ini yakni mengandalkan cairan yang bergerak dalam ruang hampa. Saat tuas rem ditekan atau diinjak maka cairan rem bergerak hingga mendesak kampas rem menjepit cakram untuk pengereman.
Lihat juga:Alasan Semua Lap Mobil Disebut Kanebo |
Produk cairan rem, yang biasanya berwarna merah atau bening, punya sifat higroskopis yang berarti mudah mengisap dan melepaskan uap air. Sifat itu disebabkan terdapat kandungan material glikol.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sifat menyerap air itu yang bikin cairan rem mesti dihindari dari kontaminasi uap air. Beberapa cara kontaminasi bisa terjadi misalnya saat terjadi kebocoran pada selang atau sering membuka-tutup master silinder.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Istilah Kurang Tepat 'Jamur di Kaca Mobil' |
Dia juga merekomendasikan tidak menambah cairan rem pada master silinder menggunakan cairan rem di kemasan produk yang disimpan dengan penutup sudah pernah dibuka. Kata Taqwa penggantian rem disarankan setiap 20 ribu km untuk mobil dan 10 ribu km buat sepeda motor.
Penggunaan istilah minyak rem bisa jadi muncul karena penampakan cairan rem yang mirip minyak kendati tidak punya sifatnya. Istilah minyak rem juga dipandang kurang tepat sebab penamaan produk cairan rem, seperti bisa dilihat di kemasan, tertulis brake fluid (cairan rem), bukan brake oil (minyak rem). (ryh/fea)