Menurut dia rasa pesimistis datang setelah mendalami pencapaian penjualan pada April dan Mei yang saat ini masih berjalan.
Gaikindo telah merevisi target penjualan pada April lalu usai melihat penjualan Maret yang mulai terasa dihantam Covid-19. Saat itu asosiasi produsen otomotif ini menurunkan target dari 1,05 juta unit menjadi 600 ribu unit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kekhawatiran Gaikindo dilandasi hasil ritel pada April yang hanya mencapai 25 ribu unit, itu jatuh nyaris 50 persen dibanding Maret 60.447 unit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara wholesales pada April terekam lebih parah ketimbang ritel yakni terjun sekitar 90 persen menjadi 8.000-an unit dibanding Maret 76.800 unit.
Mei Anjlok
Nangoi menduga penjualan Mei bakal lebih anjlok ketimbang April karena beberapa faktor seperti penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang semakin luas diterapkan di sejumlah kota besar Indonesia.
PSBB sejauh ini telah menutup operasi dealer yang menjadi ujung tombak penjualan. Selain itu faktor eksternal juga datang dari pihak perusahaan pembiayaan (leasing) yang selektif memilih konsumen karena risiko gagal bayar tinggi imbas Covid-19.
"Kalau Mei juga pasti akan berdampak sama apalagi Mei, PSBB sudah berlaku untuk banyak tempat Indonesia dan ini jelang lebaran. Jadi kemungkinan tetap turun dibanding April," kata Nangoi. (ryh/fea)