Perhatian atas situasi Covid-19 pada ojol terangkat ke permukaan usai salah satu pengendara di Surabaya, Jawa Timur berinisial DAW (39) diketahui positif melalui hasil pemeriksaan swab polymerase chain reaction (PCR).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Presidium Nasional Garda Igun Wicaksono mengatakan data status Covid-19 pada ojol nihil sebab pengendara tidak melaporkan kondisi kesehatannya, baik yang menjadi orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pemantauan (PDP), atau positif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Igun pihaknya pernah mengajukan permintaan kepada Grab dan Gojek agar mau memfasilitasi pemeriksaan Covid-19 buat mitra ojol, namun kata dia tak ditanggapi.
"Mereka no comment," ucap Igun.
Igun juga pernah meminta pengendara ojol melakukan rapid tes tanpa biaya di mana saja yang memungkinkan. Tujuannya agar pengendara terindikasi positif diminta berhenti beraktivitas, mengkarantina diri, atau dirawat.
Imbauan tersebut tidak dilakukan pasalnya sejumlah pengendara dikatakan lebih khawatir bila sampai dikarantina atau dirawat setelah dinyatakan positif. Mereka disebut khawatir tidak bisa membiayai kebutuhan rumah tangganya.
"Ojol bingung apabila harus ada yang dirawat atau karantina, keluarganya tidak ada yang diberi makan," ucap Igun.
"Salah satunya dari tidak patuh protokol physical distancing dan lalu tidak patuh protokol kesehatan. Maka itu Garda usulkan partisi untuk meminimalisir penularan," kata Igun. (ryh/fea)