Sinyal Bahaya dari Hino: Bisa Muncul Kasus Sritex di Kendaraan Niaga
Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI) memperingatkan ancaman serius bagi industri kendaraan niaga nasional akibat serbuan masuk truk impor asal China. Jika kondisi ini terus berlanjut, Hino menilai bukan tidak mungkin akan muncul tragedi industri serupa kasus Sritex di sektor tekstil.
Manajemen Hino menyebut serbuan truk impor murah telah menekan produksi mereka di dalam negeri secara signifikan.
"Jadi kalau ini terus menerus industri akan berat, dan tutup bisa jadi. Sritex kedua bisa terjadi tapi di industri otomotif komersial," kata Harianto Sariyan, Director HMMI di pabrik Hino kawasan Purwakarta, Jawa Barat, Rabu (21/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sritex adalah perusahaan tekstil terbesar di Indonesia yang mengalami masalah keuangan hingga gagal membayar utang dan digugat para krediturnya. Total utang perusahaan yang berdiri selama 50 tahun ini mencapai Rp26 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu alasan Sritex bangkrut dan berupaya meminjam banyak uang lantaran tertekan banjirnya barang impor China dan aturan pemerintah yang merelaksasi impor sejumlah komoditas termasuk tekstil. Selain itu Sritex juga punya masalah buruknya manajemen dan minim investasi inovasi teknologi.
Dihantam truk impor China
Harianto mengurai utilitas produksi di pabrik Hino pada 2025 tersisa 25 persen, dari kapasitas terpasang sebanyak 75 ribu unit per tahun. Menurut dia ini merupakan tekanan karena menyangkut hajat hidup banyak pekerja, termasuk pemasok suku cadang.
"Ya 2025 itu adalah tahun tersuram buat pabrik. Utilitisasi hanya sekitar 25 persen. Karena tahun lalu, banyak truk China masuk," katanya.
Melansir data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), angka produksi Hino pada 2025 turun 22,6 persen menjadi 18.450 unit. Sementara wholesales menjadi 18.367 unit dan retailnya 20.517 unit.
Sedangkan wholesales Hino pada 2024 berjumlah 24.158 unit dan retailnya 22.925 unit.
Meski mengaku terpuruk, ia melanjutkan perusahaan tetap berusaha tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap pegawai, yang saat ini berjumlah 1.548 tenaga kerja.
"Kebetulan seperti yang saya sampaikan turun jauh, tapi kami belum ada PHK sampai sekarang. Kamu masih bertahan," ujarnya.
Selain itu ia mengatakan sektor karoseri lokal menjadi salah satu pihak yang terpuruk akibat gempuran kendaraan komersial China.
Ini disebabkan kendaraan impor utuh tersebut datang dalam kondisi sudah terpasang bodi, berbeda dengan industri kendaraan niaga buatan Indonesia yang umumnya menggandeng produsen karoseri lokal untuk pembuatan bodi.
"Asosiasi karoseri sangat berat kenapa, karena kalau dari kami itu keluarnya (produk) lari ke karoseri. Kalau truk China itu (sudah termasuk) bodi jadi tinggal pakai," kata dia.
Lebih dari itu Harianto menambahkan pihaknya tetap berkomitmen di Indonesia melalui banyak strategi. Misalnya melakukan penghematan, hingga memperkuat produk sampai dengan layanan aftersales kepada konsumen.
(ryh/fea)[Gambas:Video CNN]

