EVOLUTION INDONESIA FORUM

Moeldoko Ungkap 3 Kontribusi Penting Kendaraan Listrik

CNN Indonesia
Selasa, 03 Feb 2026 12:41 WIB
Ketua Umum Periklindo, Moeldoko, menjelaskan tiga kontribusi penting kendaraan listrik untuk pengurangan emisi karbon dan dampaknya pada ekonomi dan kesehatan.
Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), Moeldoko. (CNN Indonesia TV)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), Moeldoko, mengungkap tiga kontribusi penting kendaraan listrik.

"Saat ini jumlah kendaraan, ada 196 juta, menurut data. Jadi kalau begitu, berarti kontribusi terhadap CO2 sangat besar. Ini kalau kita tidak bekerja keras, itu akan sulit. Kontribusi terbesar untuk darat itu, kendaraan penumpang, 76 persen. Sementara untuk truk, bus, sekitar 15 persen," ujar Moeldoko dalam acara EVolution Indonesia Forum CNN Indonesia di Jakarta, Selasa (3/2).

Moeldoko mengatakan penggunaan kendaraan listrik sangat penting dalam upaya pengurangan emisi karbon, terutama menuju target Net Zero Emission (NZE) 2060.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di sini perlu upaya keras, tapi saya optimis, karena melihat perkembangan mobil EV ini sangat cepat," ucap Moeldoko.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lebih lanjut, Moeldoko menyebut tiga kontribusi besar kendaraan listrik. Pertama, pengguna mobil listrik bisa mengurangi pengeluaran keluarga. Sementara dua kontribusi lainnya berkaitan langsung terhadap pemerintah.

"Kedua, mobil listrik berkontribusi terhadap pengurangan CO2. Dengan begitu maka pemerintah bisa mengurangi subsidi untuk BPJS, karena orang yang sakit akan berkurang, karena udara kita segar," ujar Moeldoko.

"Ketiga, bisa berkontribusi untuk negara, karena kontribusi subsidi untuk BBM akan berkurang, hingga APBN kita sehat, bisa digunakan untuk hal lain, untuk kesehatan, pendidikan dll," katanya menambahkan.

Moeldoko sadar pemerintah tidak bisa berjalan sendiri terkait meningkatkan penggunaan mobil listrik. Pemerintah, dikatakan Moeldoko, harus berjalan beriringan dengan pihak swasta.

"Pertanyaannya adalah, apakah sudah seimbang terkait supply demand. Kalau ada kekhawatiran soal ekosistem, maka kita harus bekerja keras. Saya setuju dengan pemerintah, bahwa pemerintah tidak bisa bertindak sendirian. Nah, ini swasta mulai melirik, dan kalau swasta sudah melirik maka regulasinya harus berubah," ucap Moeldoko.

(har)


[Gambas:Video CNN]