Belum Kelar Impor Truk China, Kini Impor Pikap India Tambah Meresahkan
Industri otomotif nasional kembali menghadapi dinamika baru. Setelah sebelumnya diramaikan masuknya truk impor asal China secara masif, kini produsen dalam negeri dihadapkan serbuan impor CBU kendaraan komersial, termasuk pikap, asal India.
Importasi itu digerakkan BUMN Agrinas Pangan Nusantara untuk mendukung kegiatan distribusi program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Sebanyak 105 ribu unit kendaraan komersial akan disuplai dua produsen asal India, Mahindra & Mahindra dan Tata Motors.
Detailnya adalah Mahindra akan mengekspor 35 ribu pikap 4x4 Scorpio, sedangkan Tata bakal mengirim 35.000 unit pikap 4x4 Yodha dan 35 ribu unit truk roda enam Ultra T.7. Importasi akan dilakukan sepanjang tahun ini dengan nilai pengadaan Rp24,6 triliun.
Kondisi ini cukup ironis ketika negara memutuskan memasok barang dari luar negeri padahal industri otomotif sedang bergejolak dan butuh bantuan.
Ada banyak produsen yang bisa memproduksi pikap di dalam negeri, termasuk Daihatsu, Suzuki, Mitsubishi, Isuzu, Wuling dan DFSK. Utilisasi pabrik mereka kini tertekan seiring melemahnya daya beli masyarakat dalam beberapa tahun terakhir.
Dirjen Industri Kecil, Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Reni Yanita mengungkap kekecewaannya dan menyoroti asosiasi binaan Perkumpulan Industri Kecil dan Menengah Komponen Otomotif (PIKKO)
PIKKO telah berdiri sejak 13 tahun lalu dan beranggotakan 110 IKM. Mereka memproduksi komponen otomotif berbahan dasar metal, plastic rubber dan nonwoven insulation, karpet serta mould & dies dan merupakan Tier 2 dan 3.
Menurut Reni, PIKKO telah menjadi bagian ekosistem OEM dan Tier 1 untuk kendaraan R2 dan R4 atau lebih. Mereka dikatakan sebenarnya siap mendukung penuh pengadaan kendaraan buat KDKMP.
Namun di tengah optimisme dukungan, ada kekecewaan yang muncul lantaran pemerintah melalui BUMN justru akan mengimpor CBU pikap dari India, bukan memanfaatkan pabrikan kendaraan komersial di Indonesia.
"Sehubungan dengan adanya informasi rencana langkah Importasi Kendaraan untuk Operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) oleh PT Agrinas Pangan Nusantara, PIKKO menyampaikan kekecewaannya atas rencana importasi kendaraan tersebut," kata Reni dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (20/2).
"Dengan utilisasi produksi saat ini yang masih di angka 60-70 persen, tentunya dampak impor kendaraan utuh tidak hanya dirasakan pabrikan, tetapi juga pada sekitar 6000 tenaga kerja di sepanjang rantai pasok industri komponen otomotif," katanya lagi.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang juga telah menyatakan sikap dengan menyebut pemerintah telah secara konsisten menjaga keberlanjutan industri otomotif nasional, termasuk mengimbau pelaku industri otomotif menjaga stabilitas tenaga kerja di tengah dinamika dan tantangan global.
Sehingga, kata dia, pengadaan kendaraan melalui impor dikhawatirkan bakal mengganggu upaya tersebut.
"Kami terus mengajak pelaku industri otomotif agar menjaga keberlangsungan usaha sekaligus mempertahankan tenaga kerja, sehingga tidak terjadi pemutusan hubungan kerja di tengah tantangan industri yang ada," ucap Agus.
Kasus truk impor China banjiri Indonesia
Selama beberapa tahun terakhir, pabrikan kendaraan niaga juga mengeluh soal kasus maraknya truk impor asal China masuk Indonesia.
Distributor kendaraan komersial Mitsubishi Fuso, Krama Yudha Tiga Berlian Motor (Fuso), menyebut masuknya truk China yang tidak sesuai regulasi dinilai sangat tidak adil untuk perusahaan dengan investasi besar di dalam negeri. Perusahaan ini meminta pemerintah segera menindak tegas.
Selain itu pabrikan Hino juga mengeluhkan masalah yang sama, sebab kondisi ini telah menggerus produksinya di Indonesia.
Direktur Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI) Harianto Sariyan mengatakan pabrik di Tanah Air yang berlokasi di Purwakarta, Jawa Barat, memiliki kapasitas produksi tahunan sebesar 75 ribu unit. Saat ini kapasitas terpakai 35 persen hingga 45 persen.
"Tapi 2025 tahun paling suram buat kami sisa sekitar 25 persen. Karena tahun lalu banyak truk China masuk," kata Harianto di pabriknya, Rabu (21/1).
Ia cukup menyesalkan kondisi tersebut, mengingat Hino telah berinvestasi cukup besar di dalam negeri dan mempekerjakan ribuan orang pada ekosistem bisnis tersebut.
(ryh/fea)