BBM Potensi Tambah Mahal Imbas Perang Iran, Motor Listrik Untung?

CNN Indonesia
Kamis, 12 Mar 2026 08:20 WIB
Ilustrasi. Perang di Timur Tengah berpotensi naikkan harga minyak, berdampak pada BBM domestik. Namun, ini bisa jadi peluang bagi sepeda motor listrik yang lebih efisien. (Foto: CNNIndonesia/Adi Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perang di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia. Kondisi ini dianggap dapat berdampak pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri.

Di sisi lain, kondisi ini diproyeksi dapat menjadi momentum bagi kendaraan listrik, termasuk sepeda motor listrik. Sebab, sepeda motor listrik merupakan kendaraan rendah emisi yang minim biaya operasional karena tak lagi memerlukan bahan bakar.

Salah satu produsen motor listrik Tanah Air, Alva, mengamini jika saat ini masyarakat semakin rasional dalam menghitung biaya operasional kendaraan sehari-hari, terutama ketika harga BBM berpotensi naik akibat gejolak geopolitik global.

"Kalau dilihat dari penggunaan motor listrik, memang kita semua udah tahu ya bahwa yang namanya motor listrik ini secara biaya operasinya, itu jauh lebih rendah," kata Chief Executive Officer Alva Purbaja Pantja, Selasa (10/3) di Jakarta.

"Jadi, tentunya dari segi masyarakat mereka akan terus membandingkan ya biaya listrik seperti apa dan juga biaya daripada bahan bakar bensin seperti apa," ucapnya lagi.

Meski demikian, Purbaja tidak secara spesifik memproyeksi lonjakan penjualan hanya karena potensi kenaikan Harga BBM. Perusahaan berharap tren pertumbuhan tetap berlanjut seperti yang sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda motor Listrik Indonesia (Aismoli), penjualan motor listrik seluruh produsen di bawah Aismoli, termasuk Alva, mencapai 55 ribu unit, turun dari 2024 sebanyak 70 ribuan unit.

Meski begitu, Aismoli menaikkan target penjualan motor listrik sebesar 10 persen dibandingkan realisasi penjualan 2025.

"Apa yang sudah kita capai, tentunya kita berharap bahwa baik itu ada kenaikan BBM atau tidak. Kami berharap Alva bisa terus menjual motornya lebih setiap tahunnya, dan seperti yang tadi sampaikan bahwa di tahun lalu dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kita bisa meningkatkan penjualan," kata dia.

Lebih dari itu Purbaja mengatakan pihaknya berharap segala konflik global yang terjadi dapat segera berakhir.

"Jadi, saya berharap itu tidak berkepanjangan dan mudah-mudahan kita semua bisa hidup dengan tenang dengan damai lah," ucap dia.

Harga minyak mentah dunia tembus level US$100 barel per hari (bph) pada Senin (9/3) imbas perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Lonjakan ini menjadi rekor tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Juli 2022 lalu.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent tercatat sempat naik US$15,24 atau 16,4 persen ke level US$107,93 per barel, setelah sebelumnya sempat melonjak hingga US$18,35 atau 19,8 persen menjadi US$111,04 per barel.

Sementara itu minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$16,50 atau 18,2 persen menjadi US$107,40 per barel setelah sebelumnya sempat menyentuh US$111,24 per barel.

Meski begitu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan tak akan ada kenaikan harga BBM subsidi, Pertalite dan Solar, menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.

Pada saat yang sama, Bahlil juga mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan panic buying. Ia memastikan stok BBM nasional RI masih tercukupi.

"Industri kita jalan terus dan impor kita enggak ada masalah apalagi di Timur Tengah itu kita cuma impor crude minyak mentahnya sementara minyak jadinya kita impor dari negara Asia Tenggara dan produksi dalam negeri," ujar Bahlil, Selasa (10/3).

(ryh/dmi)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK