Harga BBM Naik Mobil Listrik Diprediksi Kian Moncer, Ini Kata Pengamat
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menilai tekanan dari harga energi fosil yang berpotensi makin mahal, ditambah ketidakpastian pasokan minyak akibat konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong masyarakat beralih ke kendaraan listrik.
Pasar mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) di Indonesia diproyeksikan semakin bergairah pada 2026. Faktor utama adalah isu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akibat konflik di Timur Tengah yang berdampak terhadap melonjaknya banderol minyak dunia.
"Tampaknya penjualan BEV justru semakin cerah di tahun 2026," kata Yannes saat dihubungi, Selasa (31/3).
Ia menilai melonjaknya angka penjualan kendaraan listrik tersebut bisa menjadi kenyataan karena masyarakat semakin paham ada selisih yang jauh biaya operasional sehari-hari dan bulanan jika antara memakai EV dibanding mobil ICE.
"Karena masyarakat sudah semakin paham biaya operasional BEV jauh lebih murah. Biaya EV hanya sekitar Rp200-300/Km (home charging), sementara kendaraan pemakai bensin dengan power sekelasnya bisa mencapai Rp800-1.200/Km. Semakin tinggi harga minyak dunia maka selisih ini tentunya akan semakin besar," ungkap dia.
Pada tahap ini masyarakat tentu akan mulai berhitung soal total cost of ownership (TCO) dalam kepemilikan mobil.
Ambil contoh untuk penggunaan dalam setahun, di mana dengan asumsi jarak tempuh 30 kilometer per hari, biaya operasional mobil listrik hanya sekitar Rp2,2 juta hingga Rp3,8 juta per tahun. Sementara mobil bensin dengan konsumsi Pertalite dapat mencapai Rp8,8 juta hingga Rp13 juta per tahun.
"Semakin jauh jarak tempuh rerata per hari semakin besar penghematannya. Akhirnya masyarakat mulai hitung-hitungan jangka panjang, walau harga beli BEV lebih mahal di awal, pengeluaran bulanan untuk BBM semakin jauh lebih hemat," ucap Yannes.
Pangsa pasar meningkat
Sepanjang 2025, penjualan mobil listrik naik signifikan menembus angka 103.931 unit. Hasil ini membuat mobil listrik memberi kontribusi lebih dari 12 persen wholesales atau distribusi dari pabrik ke dealer secara nasional.
Mengacu data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) kenaikan permintaan mobil listrik pada 2025 melonjak 141 persen, di mana pada 2024 wholesales hanya 43.188 unit.
Memasuki 2026, distribusi mobil listrik ke dealer periode Januari-Februari naik 189,2 persen menjadi 22.508 unit dari periode yang sama pada 2025.
Berdasarkan analisisnya, Yannes memproyeksi pangsa pasar BEV di Indonesia akan tembus 18 hingga 25 persen sepanjang 2026, akibat kondisi yang terjadi saat ini.
"Menurut analisis saya, tahun 2026 ini penjualan BEV berpotensi terus meningkat dan bisa mencapai pangsa pasar 18-25 persen. BBM yang mahal dan tidak stabil menjadi pendorong alami bagi orang untuk beralih ke BEV," ungkap Yannes.
Namun demikian, ia mengingatkan masih ada sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan salah satunya Infrastruktur pengisian daya atau SPKLU belum merata.
"Walaupun tantangannya masih ada seperti masih terbatasnya SPKLU yang di beberapa daerah belum merata, dan harga BEV yang relatif tinggi pasca hilangnya insentif pembelian. Tetapi, trennya jelas positif," kata dia.
(ryh/mik)