BYD-Chery Buka Suara Krisis BBM Dorong Warga Beli Mobil Listrik

CNN Indonesia
Kamis, 02 Apr 2026 14:30 WIB
BYD merasa masalah krisis energi termasuk BBM dampak gejolak di Timur Tengah bisa mendorong minat beli mobil listrik.
BYD merasa masalah krisis energi termasuk BBM dampak gejolak di Timur Tengah bisa mendorong minat beli mobil listrik. (CNNIndonesia/Febri Ardani)
Jakarta, CNN Indonesia --

BYD sebagai salah satu pemain utama dalam industri kendaraan listrik global, termasuk Indonesia, menilai dampak krisis energi termasuk bahan bakar minyak (BBM) akibat konflik Timur Tengah berpeluang memengaruhi minat konsumen beralih ke mobil listrik. Kondisi itu diakui BYD telah terjadi di banyak negara.

"Kami juga lihat bersama di beberapa negara, memang kondisi ini turut mendorong meningkatnya minat terhadap kendaraan listrik," kata Luther Panjaitan, Head of Public & Government Relations PT BYD Motor Indonesia saat dihubungi, Kamis (1/4).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski demikian ia menegaskan bagi BYD visi jangka panjang tetap menjadi yang utama. Ia berbicara mengenai pentingnya mengurangi ketergantungan BBM sebagai energi utama.

"Namun bagi BYD, fokus utama kami tidak semata pada dinamika jangka pendek, namun kepada solusi praktis berkelanjutan, sesuai dengan visi BYD dari awal yang bergerak di bidang Energy Acquisition, Energy Storage, dan Energy Utilization," ucap dia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di sisi hulu, renewable energy source menjadi salah satu solusi alternatif yang sangat diperlukan saat ini untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang semakin terbatas dan memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi," kata Luther.

Luther melanjutkan penggunaan New Energy vehicle (NEV) merupakan solusi paling efektif meningkatkan efisiensi energi sekaligus membantu mengurangi dampak emisi karbon.

"Karenanya, BYD akan terus memgampanyekan dua hal penting tersebut kepada publik, terutama mendorong agar lebih banyak lagi masyarakat Indonesia yang dapat merasakan manfaat dari NEV menuju masa depan yang lebih baik," kata dia.

Luther mengatakan prihatin dengan situasi geopolitik terkini. Ia juga menyebut industri otomotif pada dasarnya tergantung dari daya beli masyarakat.

"Pada dasarnya, kami melihat industri otomotif adalah bagian sangat tergantung pada daya beli masyarakat. Kami berharap dinamika seperti krisis energi global tidak berdampak luas pada banyak hal termasuk kondisi pasar," ucap Luther.

Secara terpisah, Vice Country Director Chery Business Unit Budi Darmawan Jantania mengatakan potensi kenaikan harga maupun krisis BBM belum tentu berdampak langsung terhadap lonjakan penjualan mobil listrik berbasis baterai di Indonesia.

Budi berpendapat realisasi di lapangan masih sangat bergantung pada sejumlah faktor lain.

"Saat ini kondisi nya masih belum clear walaupun diprediksi akan memicu peningkatan demand terhadap mobil listrik, namun hal ini juga belum bisa diprediksi secara pasti," ujar Budi saat dihubungi, Selasa (31/3).

Menurut Budi ada dua faktor utama yang akan sangat menentukan arah pasar kendaraan listrik ke depan. Pertama kondisi perekonomian masyarakat, dan kedua terkait kejelasan skema insentif dari pemerintah.

"Dua faktor utama yaitu kondisi perekonomian dan skema insentif yang sampai saat ini belum difinalkan kelanjutannya," kata Budi.

(ryh/fea) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]