Panduan Singkat Beralih ke Mobil Listrik Bagi Pemula
Mobil listrik dewasa ini semakin dilirik menimbang berbagai insentif dan penawaran serta risiko lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) kendaraan konvensional yang semakin tidak menentu.
Data resmi Gaikindo mencatat penjualan mobil listrik pada 2025 mencapai 103.931 unit, naik sekitar 10 kali lipat dibanding 2022 di angka 10.327 unit. Artinya, jumlah pengguna kendaraan listrik di Indonesia semakin meningkat.
Meski begitu, sebagian pengguna pemula atau pengemudi baru ingin beralih ke mobil listrik mungkin kesulitan memahami beberapa hal penting. Misalnya cara kerja mobil listrik, cara pengisian daya, biaya perawatan, dan lain sebagainya.
Sebelum beralih ke mobil listrik, Anda sebaiknya memperhatikan sejumlah hal itu agar tidak salah langkah. Berikut panduan untuk memudahkan peralihan ke mobil listrik bagi pemula.
1. Pahami cara kerjanya
Mobil listrik mengusung tenaga penggerak dari motor listrik dan baterai. Sistem ini tidak memerlukan BBM untuk berfungsi, tetapi memanfaatkan daya listrik lewat mekanisme pengecasan.
Perlu diperhatikan mobil elektrifikasi terdiri dari berbagai jenis, misalnya Battery Electric Vehicle (BEV), Hybrid Electric Vehicle (HEV), Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), hingga Fuel Cell Hybrid Electric Vehicle (FCHEV).
Setiap jenis mobil memiliki keunggulan masing-masing sehingga penting menyesuaikan dengan kebutuhan berkendara Anda.
2. Pelajari cara pengisian daya
Pengisian daya atau pengecasan mobil listrik terbilang mudah. Utamanya ada dua pilihan pengisian daya, pertama pengecasan dari rumah dan kedua dari stasiun pengisian umum seperti Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).
Pada dasarnya keduanya memiliki metode pengisian sama. Anda hanya perlu menyambungkan kabel di stasiun pengisian dengan port di mobil dan menunggu dalam hitungan menit sampai jam.
3. Jarak tempuh dan kapasitas baterai
Jarak tempuh dan kapasitas baterai menjadi aspek penting saat menentukan ketahanan mobil dalam sekali pengisian daya. Jarak tempuh maksimum 500 km berarti mobil dalam kondisi baterai penuh hanya dapat menempuh maksimal jarak tersebut sebelum daya habis total.
Perhatikan jarak tempuh pabrikan mobil dan sesuaikan dengan kebutuhan harian Anda untuk berkendara lebih efisien. Sebagai contoh, penggunaan dalam kota dengan jarak tempuh harian 40 km idealnya membutuhkan mobil dengan jarak tempuh maksimum 200 km hingga 250 km.
Lihat Juga : |
4. Hitung biaya perawatannya
Biaya operasional dan perawatan mobil listrik terbilang rendah dibandingkan kendaraan konvensional. Alasannya, sistem ini tidak mengusung mesin pembakaran sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya rutin penggantian oli mesin, filter udara, ataupun busi.
Dari segi konsumsi bahan bakar, mobil listrik rata-rata hanya memerlukan sepertiga dari biaya dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan BBM mobil konvensional. Perhitungan terhadap biaya operasional perlu disesuaikan sebelum Anda beralih ke mobil jenis ini.
5. Kenali kebiasaan berkendara efisien
Kebiasaan berkendara menjadi aspek terakhir yang tidak kalah penting untuk beralih ke mobil listrik dengan sempurna. Anda perlu meluangkan waktu untuk membiasakan diri menggunakan mode tertentu, memanfaatkan sistem regenerative breaking, serta perencanaan rute.
Seiring berjalannya waktu, Anda akan menemukan cara berkendara lebih efisien sesuai dengan kebiasaan dan kebutuhan harian.
(iqb/fea)