CEO Ford Tolak Keras Mobil China Masuk Pasar AS

CNN Indonesia
Jumat, 17 Apr 2026 12:15 WIB
Menurut CEO Ford Jim Farley masuknya mobil China membuat pertarungan industri di dalam negeri tak adil.
Menurut CEO Ford Jim Farley masuknya mobil China membuat pertarungan industri di dalam negeri tak adil. (Getty Images via AFP/SCOTT OLSON)
Jakarta, CNN Indonesia --

CEO Ford Jim Farley menolak keras masuknya mobil China ke pasar Amerika Serikat (AS) karena dianggap dapat menghancurkan manufaktur dalam negeri. Setelah sebelumnya sempat memuji performa Xiaomi SU7, ia kini mengatakan produsen China adalah ancaman eksistensial bagi industri otomotif dalam negeri.

"Kita tidak seharusnya membiarkan mereka masuk ke negara kita. Manufaktur adalah jantung dan jiwa negara kita, dan kehilangan itu karena ekspor tersebut akan sangat menghancurkan negara kita," kata Jim Farley dalam sebuah wawancara bersama Fox News.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jim Farley turut menekankan masalah data dan keamanan sebagai bentuk kewaspadaan terhadap produk-produk kendaraan asal China.

"Itu belum termasuk risiko siber dan privasi dari kendaraan buatan China. Semua kendaraan memiliki 10 kamera, mereka dapat mengumpulkan banyak data. Ini sama sekali bukan pertarungan yang adil," ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

CEO Ford mengecam strategi produsen China, menyebut aktivitas perusahaan-perusahaan itu tidak adil bagi persaingan dalam industri otomotif AS. Sebagai tambahan, perusahaan asal AS ini juga telah menjalankan berbagai upaya agar tidak kalah dalam persaingan itu.

"Ford harus melakukan bagian kami untuk membuat kendaraan kami kompetitif dengan kendaraan buatan China, dan saya pikir kami telah melakukannya dengan kendaraan listrik terjangkau baru kami yang akan segera diluncurkan, yang diproduksi di Kentucky, tetapi ini bukan persaingan yang adil dan ini seharusnya berdampak besar pada AS," tuturnya.

Pada dasarnya, keterjangkauan memang mampu mengarahkan minat konsumen untuk membeli mobil-mobil listrik China dengan harga lebih murah.

Namun, tarif impor sebesar 100 persen oleh pemerintah AS serta berbagai tantangan kebijakan lainnya terhadap mobil impor China sebenarnya telah menuntut perusahaan menetapkan harga lebih tinggi.

Alhasil, tantangan utamanya bisa jadi bukan terpaku pada harga, melainkan keunggulan produsen China menciptakan terobosan teknologi dan kemampuan perusahaan AS untuk mengimbanginya.

Selain itu, semakin terbukanya pasar Canada dan Meksiko terhadap kedatangan mobil-mobil dari China turut menambah lapisan lain bagi kerumitan persaingan dagang ini. Posisi keduanya berdekatan dengan AS serta semakin dikenalnya merek asal China seperti BYD berpotensi mengguncang lanskap pasar otomotif Amerika Utara.

(iqb/fea) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]