CEO Honda Kaget Lihat Pabrik Otomotif China: Kami Tak Punya Peluang

CNN Indonesia
Senin, 27 Apr 2026 15:15 WIB
CEO Honda Toshihiro Mibe mengatakan 'tak punya peluang melawan ini' saat mengunjuni pabrik pemasok otomotif di China. (AFP/PHILIP FONG)
Jakarta, CNN Indonesia --

CEO Honda Toshihiro Mibe melontarkan pernyataan kontroversial usai mengunjungi pabrik pemasok otomotif di Shanghai pada Februari lalu. Ia mengaku tak punya peluang bersaing dengan produsen China terkait kendaraan listrik.

Mibe mengunjungi China untuk memahami bagaimana perusahaan domestik setempat mampu menghasilkan begitu banyak produk dalam waktu singkat. Setelah mengunjungi pabrik pemasok otomotif di Shanghai, ia lantas membuat pernyataan secara tegas.

"Kami tidak punya peluang melawan ini," kata Mibe mengutip Nikkei Asia, Senin (27/4).

Pernyataan ini muncul setelah perusahaan mengalami masa sulit dalam beberapa waktu terakhir. Merek Jepang ini baru saja membatalkan dua proyek mobil listrik yakni 0 SUV dan 0 Sedan, serta kebangkitan Acura RSX. Honda juga akan mencatat kerugian hingga US$15,8 miliar, dan itu belum semua.

Dua mobil listrik bermerek Afeela yang dikembangkan bersama Sony juga dipastikan batal sebelum diluncurkan.

Tak hanya itu Honda juga telah mengungkap bakal menghentikan penjualan mobil baru di Korea Selatan akhir 2026.

Menurut laporan Motor 1, seperti banyak merek lainnya, Honda sulit tetap kompetitif di China. Penjualan mereka anjlok dalam beberapa tahun terakhir, dari puncak 1,62 juta unit pada 2020 menjadi hanya 640 ribu unit pada 2025. Pada 2026, produksi tahunan diproyeksikan turun di bawah 600 ribu unit.

China sangat cepat kembangkan mobil

Produsen di China dikenal atas kecepatan mereka mengembangkan model baru, bisa dalam dua tahun atau kurang. Sedangkan merek lama, butuh waktu dua kali lebih lama, bahkan lebih, untuk merancang produk baru.

Selain itu pemasok komponen di China tidak hanya mampu mengikuti kecepatan ini, tetapi juga melakukannya dengan efisiensi biaya yang sulit ditandingi pemain besar industri.

Meski demikian, pernyataan Mibe tidak berarti menyerah. Sepulang dari China, ia mengatakan kepada para pemasok Honda "harus bergerak cepat" untuk mempercepat pengembangan.

Untuk itu, Honda kembali memperkuat divisi riset dan pengembangannya yang independen dengan memindahkan ribuan insinyur ke anak perusahaan teknik yang baru dibentuk.

Pabrikan lain khawatir

Pimpinan Honda bukan satu-satunya yang membunyikan alarm di rantai pasok otomotif. Dalam wawancara Oktober 2025 dengan CBS Sunday Morning, CEO Ford Jim Farley juga menyampaikan kekhawatirannya secara lugas.

"Mereka punya kapasitas produksi di China dengan pabrik yang ada saat ini untuk melayani seluruh pasar Amerika Utara, dan bisa membuat kami semua bangkrut," kata Farley.

Senada, mantan CEO Toyota Koji Sato dalam pertemuan dengan perwakilan dari 484 perusahaan pemasok mengatakan jika tidak ada perubahan, keberlangsungan perusahaan bisa terancam.

"Jika tidak ada perubahan, kita tidak akan bertahan. Saya ingin semua pihak menyadari rasa krisis ini," ucap Sato.

Saat Toyota, sebagai produsen mobil terbesar di dunia selama enam tahun berturut-turut mengeluarkan pernyataan seperti itu, besarnya tantangan dari negeri tirai bambu bisa jadi nyata adanya.

(ryh/fea)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK