Perang Diskon Mobil China Makin Parah Meski Sudah Dilerai Pemerintah

CNN Indonesia
Selasa, 05 Mei 2026 20:00 WIB
Perang harga dari pemberian diskon produsen mobil di China tak pernah mereda, justru pemain yang ikut bertambah BYD. (CNNIndonesia/Adi Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perang harga mobil di China kian panas meski sebelumnya sempat 'dilerai' pemerintah setempat. Praktik banting harga ini masih terus dilakukan hampir seluruh produsen, termasuk raksasa kendaraan listrik BYD.

Mengutip Carscoops, selama hampir dua tahun terakhir industri otomotif China menunggu kompetisi harga ini mereda sendirinya. Namun harapan itu tak terwujud, pabrikan justru terus menekan harga tanpa tanda bakal menghentikan strategi tersebut.

Di tengah pasar domestik yang melemah, BYD ikut memangkas harga secara signifikan. Langkah ini diikuti pesaing utama seperti Geely dan Chery, yang juga agresif menawarkan diskon.

Padahal, hampir setahun lalu otoritas China sempat mengumpulkan belasan pimpinan produsen mobil untuk meredam situasi. Mereka didesak menghentikan perang harga sebelum persaingan berujung merugikan seluruh pelaku industri.

Regulator pasar China bahkan menyerukan penertiban menyeluruh terhadap kompetisi yang disebut "involusioner", istilah yang digunakan Perdana Menteri Li Qiang untuk menggambarkan perilaku industri yang dinilai makin kontraproduktif.

Namun, upaya tersebut belum banyak mengubah keadaan. Data Bloomberg menunjukkan rata-rata pemangkasan harga model BYD meningkat hingga 10 persen pada Maret.

Sementara Geely dan Chery konsisten menawarkan diskon sekitar 15 persen dalam 12 bulan terakhir.

Akar persoalan ini berasal dari kelebihan kapasitas produksi di industri otomotif China. Tahun lalu, penjualan mobil baru hanya sekitar 23 juta unit, sementara kapasitas produksi pabrik mencapai 55,5 juta unit per tahun.

Kondisi tersebut mendorong produsen memperluas pasar ke luar negeri. Ekspor kendaraan pun meningkat, bahkan pada bulan lalu pengiriman mobil listrik dari China tercatat melonjak lebih dari dua kali lipat.

Di sisi lain, intervensi regulator juga mulai berdampak pada operasional perusahaan. Produsen, termasuk BYD, kini diwajibkan membayar pemasok lebih cepat dibanding sebelumnya. Sebelum ada pengawasan ketat, pembayaran kerap ditunda berbulan-bulan sehingga memberi ruang bagi perusahaan untuk memberikan diskon besar.

Dengan aturan baru, kewajiban di neraca perusahaan meningkat. Pada BYD, kondisi ini ikut mendorong rasio utang terhadap ekuitas naik menjadi 25 persen.

"Kelihatannya ini menguntungkan konsumen, tapi sebenarnya tidak, produsen justru merugi, merugikan seluruh ekosistem industri," ujar Sekretaris Jenderal Organisasi Internasional Produsen Kendaraan Bermotor (OICA) François Roudier.

(ryh/fea)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK